Pemerintah Tekankan Pencegahan Stunting Dimulai Dari Catin

  • 16 Sep 2025 20:49 WIB
  •  Banten

KBRN, Serang: Pemerintah terus menekankan pentingnya pencegahan stunting sejak masa calon pengantin (catin) untuk memastikan kualitas generasi mendatang. Stunting yang disebabkan kurang gizi kronis pada 1.000 hari pertama kehidupan dinilai berpotensi mengancam bonus demografi Indonesia 2030-2040.

Penyuluh KB Muda BKKBN Provinsi Banten, Ade Yusmuliani Lubis, menyebut stunting tidak hanya berdampak pada tinggi badan, tetapi juga kecerdasan, daya tahan tubuh, hingga produktivitas seseorang di usia dewasa. Jika jumlah kasus stunting tidak ditekan, maka Indonesia berisiko kehilangan generasi produktif.

“Anak stunting ini tidak hanya lebih pendek dari usianya, tapi juga mudah sakit dan tingkat kecerdasannya terhambat. Kalau jumlahnya besar, negara akan rugi secara ekonomi karena generasi produktif jadi lemah,” ujar Ade dalam dialog Mozaik Indonesia RRI Pro 1 Banten, Selasa (16/9/2025).

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, angka stunting nasional mencapai 21,5 persen, sedikit menurun menjadi 19,8 persen pada 2024. Namun angka tersebut masih di atas target pemerintah 14 persen. Di Provinsi Banten, prevalensi stunting tahun 2024 berada di angka 21,1 persen, lebih tinggi dari rata-rata nasional.

Ade menegaskan, pencegahan stunting membutuhkan peran lintas sektor, bukan hanya urusan medis. Faktor pola asuh, sanitasi, hingga pendidikan orang tua turut berpengaruh. Oleh karena itu, upaya pencegahan harus melibatkan seluruh elemen, termasuk keluarga, sekolah, hingga lingkungan masyarakat.

Dengan demikian, upaya menekan angka stunting menjadi kunci menjaga kualitas sumber daya manusia Indonesia. Hal ini sangat penting agar momentum bonus demografi tidak berubah menjadi beban demografi akibat rendahnya kualitas kesehatan generasi muda. (Muntibi)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....