Tradisi Qunutan Hidupkan Kebersamaan Warga Lebak
- 05 Mar 2026 14:35 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Lebak - Tradisi Qunutan masih terus dilestarikan oleh masyarakat di Kabupaten Lebak, Banten, terutama saat memasuki pertengahan bulan Ramadan. Tradisi ini menjadi bentuk rasa syukur masyarakat setelah berhasil menjalani separuh perjalanan ibadah puasa. Perayaan Qunutan dilaksanakan tepat pada malam ke-16 bulan Ramadan.
Nama tradisi ini diambil dari doa qunut yang mulai dibaca pada salat Witir ketika memasuki paruh kedua bulan suci Ramadan.
Di berbagai kampung di Kabupaten Lebak, warga biasanya berkumpul di masjid atau musala setelah menunaikan salat Tarawih. Mereka membawa berbagai makanan dari rumah masing-masing untuk dinikmati bersama. Sajian utama dalam tradisi ini adalah ketupat yang dimasak lebih awal dibandingkan tradisi di daerah lain yang biasanya menyajikannya saat Idulfitri.
Ketupat tersebut disajikan dengan berbagai lauk seperti opor ayam, rendang, atau semur.
Bagi masyarakat Lebak, ketupat memiliki makna simbolis sebagai ungkapan rasa syukur. Selain itu, kebersamaan saat makan bersama juga menjadi sarana mempererat hubungan antarwarga.
Warga yang hadir biasanya saling bertukar makanan yang dibawa dari rumah. Suasana hangat dan penuh kebersamaan terasa ketika masyarakat duduk bersama menikmati hidangan setelah beribadah.
Selain memiliki nilai budaya dan religius, tradisi ini juga membawa dampak ekonomi bagi para pengrajin cangkang ketupat. Menjelang pelaksanaan Qunutan, permintaan cangkang ketupat meningkat tajam.
Salah seorang penjual cangkang ketupat di Pasar Rangkasbitung, Marwan, mengaku kewalahan menghadapi lonjakan pesanan dalam beberapa hari terakhir.
“Biasanya sehari paling puluhan ikat, sekarang bisa ratusan bahkan ribuan. Sampai harus tambah jam kerja,” ujar Marwan saat ditemui di Pasar Rangkasbitung, Kamis, 5 Maret 2026.
Menurut Marwan, pembeli tidak hanya berasal dari wilayah sekitar pasar. Banyak warga dari luar kecamatan yang datang untuk membeli cangkang ketupat menjelang tradisi tersebut.
Hal serupa juga disampaikan Sarpin, penjual cangkang ketupat lainnya.
Ia mengatakan lonjakan permintaan mulai terasa beberapa hari sebelum malam pelaksanaan tradisi Qunutan. “Dalam kondisi normal kami membuatnya santai, tapi sekarang harus dikebut supaya pesanan terpenuhi,” kata Sarpin.
Cangkang ketupat yang dijual dengan harga sekitar Rp3.000 hingga Rp4.500 per 12 buah menjadi kebutuhan utama warga yang hendak merayakan tradisi ini. Meski harus bekerja lebih keras, para pengrajin mengaku senang karena tradisi Qunutan setiap tahun selalu membawa berkah ekonomi bagi mereka sekaligus menjaga warisan budaya masyarakat Lebak.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....