Usaha Kelapa Warisan Keluarga Bertahan Hingga Sekarang
- 02 Mar 2026 15:51 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Serang — Di kawasan Pasar Lama Serang, tepatnua di Jalan Maulana Hasanudin, Kota Serang, sebuah lapak kelapa tampak tetap ramai didatangi pembeli. Tumpukan kelapa tersusun rapi di pinggir jalan menunggu untuk dibelah.
Aktivitas jual beli berlangsung sederhana seperti tahun-tahun sebelumnya. Lapak tersebut menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga sekitar.
Lapak kelapa itu dikelola oleh Sarnen yang meneruskan usaha keluarganya sejak lama. Usaha tersebut sudah dirintis oleh almarhum ayahnya sejak tahun 1995. Hingga kini, tempat berjualan tidak pernah berpindah dari lokasi tersebut. Usaha kelapa ini menjadi sumber utama penghidupan keluarganya.
Sarnen mengaku telah menjalankan usaha tersebut selama hampir 17 tahun. Ia meneruskan usaha peninggalan ayahnya yang sudah lebih dulu berjualan di tempat yang sama. Baginya, usaha kelapa bukan sekadar pekerjaan sehari-hari. Usaha itu juga menjadi bagian dari perjuangan keluarga untuk mencari nafkah.
Menurut Sarnen, penjualan kelapa tidak hanya ramai saat Ramadan. Pada hari-hari biasa, pembeli tetap datang silih berganti. Sebagian pembeli merupakan warga sekitar yang sudah menjadi pelanggan tetap. Ada juga pembeli yang singgah saat melintas di kawasan tersebut.
"Pendapatannya sebenarnya tidak jauh berbeda antara bulan biasa sama Ramadan. Kalau Ramadan kebanyakan beli buat buka puasa, biasanya menjelang sore. Tapi kalau hari biasa paling orang mampir atau yang lewat beli," katanya Senin, 2 Maret 2026.
Memasuki bulan Ramadan, suasana lapak kelapa biasanya mulai ramai pada sore hari. Pembeli berdatangan setelah pulang bekerja untuk membeli kelapa sebagai minuman berbuka puasa. Waktu penjualan menjadi lebih terfokus menjelang magrib. Sementara pada hari biasa pembeli datang lebih merata sepanjang hari.
Meski tetap bertahan, Sarnen merasakan penjualan tahun ini sedikit menurun. Hal itu dirasakan jika dibandingkan dengan Ramadan tahun sebelumnya. Ia menduga kondisi ekonomi mempengaruhi daya beli masyarakat. Namun ia tetap berusaha menjalankan usaha tersebut seperti biasa.
Perjalanan usaha kelapa yang dijalani keluarganya mengalami banyak perubahan, terutama dari sisi harga. Pada tahun 2010 harga kelapa masih sekitar Rp1.500 per buah. Setahun kemudian harga berubah menjadi Rp5.000 untuk tiga buah kelapa. Kenaikan harga terus terjadi mengikuti perkembangan zaman.
Saat ini harga kelapa mencapai sekitar Rp10.000 per buah di wilayah Serang. Harga tersebut sudah menjadi harga umum hingga wilayah Cilegon. Di daerah yang lebih jauh seperti Tangerang atau Jakarta harga kelapa bisa lebih mahal. Perbedaan harga dipengaruhi biaya distribusi yang lebih tinggi.
Kelapa yang dijual didatangkan dari berbagai daerah pemasok seperti Bogor hingga Lampung. Biaya transportasi pengiriman bisa mencapai ratusan ribu hingga satu juta rupiah sekali angkut. Meski menghadapi berbagai tantangan, Sarnen tetap mempertahankan usaha kelapa warisan ayahnya. Ia berharap usaha tersebut dapat terus berjalan sebagai sumber penghidupan keluarganya
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....