Puasa Ramadan Bisa Sia-sia Tanpa Kendali Diri

  • 28 Feb 2026 12:16 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Serang — Ibadah puasa Ramadan tidak hanya bermakna menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Puasa juga menuntut pengendalian diri secara menyeluruh, baik dalam ucapan, sikap, maupun perbuatan. Tanpa pengendalian tersebut, puasa dikhawatirkan tidak memberikan dampak spiritual dan bahkan kehilangan nilai pahala.

Hal itu disampaikan Ustadz Budi Budiman dari Dompet Dhuafa Banten. Ia menekankan bahwa esensi puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa melalui pengendalian hawa nafsu dan perbaikan akhlak.

“Puasa bisa menjadi sia-sia ketika seseorang hanya menahan lapar dan haus, tetapi tidak menjaga lisan, sikap, dan perilaku dari hal-hal yang dilarang Allah SWT,” kata Ustaz Budi Budiman, dalam tausiah Inspira Qolbu yang disiarkan RRI Pro 2 Banten, 28 Februari 2026.

Menurutnya, puasa yang hanya dijalankan secara fisik tanpa menjaga lisan dan perilaku berpotensi menjadi ibadah yang sia-sia. Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwa ada orang yang berpuasa tetapi tidak memperoleh apa-apa selain rasa lapar dan haus. Hal tersebut terjadi ketika puasa tidak disertai dengan kesungguhan menjaga diri dari perbuatan yang dilarang.

Ustaz Budi menjelaskan, menjaga lisan menjadi salah satu aspek utama dalam menjalankan puasa. Perkataan yang menyakiti, kebohongan, fitnah, serta ghibah dapat merusak kualitas ibadah. Selain itu, menjaga pandangan dan pendengaran dari hal-hal yang tidak bermanfaat juga merupakan bagian dari pengendalian diri yang harus dilatih selama Ramadan.

Selain aspek akhlak, puasa juga mengajarkan kejujuran dan keikhlasan. Ibadah puasa bersifat personal karena hanya Allah SWT yang benar-benar mengetahui keikhlasan seseorang dalam menjalaninya. Hal ini menjadikan puasa sebagai sarana pembentukan integritas dan kesadaran spiritual.

Dalam tausiah tersebut, Ustaz Budi juga menyinggung dimensi sosial puasa. Rasa lapar yang dirasakan selama berpuasa seharusnya menumbuhkan empati terhadap sesama, khususnya mereka yang hidup dalam keterbatasan. Oleh karena itu, Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk memperbanyak sedekah dan amal kebaikan.

Puasa yang berkualitas, menurutnya, akan melahirkan kepedulian sosial serta kepekaan terhadap kondisi orang lain. Jika puasa tidak mendorong seseorang untuk berbagi dan membantu sesama, maka makna puasa belum sepenuhnya terwujud.

Ia mengajak umat Islam menjadikan Ramadan sebagai sarana introspeksi dan perbaikan diri. Keberhasilan puasa tidak diukur dari seberapa kuat menahan lapar dan dahaga, melainkan sejauh mana puasa mampu membentuk karakter yang lebih sabar, jujur, dan bertanggung jawab.

“Puasa sejatinya bertujuan membentuk manusia yang bertakwa. Jika setelah Ramadan tidak ada perubahan perilaku ke arah yang lebih baik, maka puasa perlu menjadi bahan evaluasi bersama,” ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....