Stafsus BGN RI Tanggapi Temuan Keracunan MBG di Cilegon
- 20 Apr 2026 19:31 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Cilegon - Staf Khusus Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi, Redy Hendra Gunawan menanggapi soal kasus puluhan siswa-siswi MTs Al-Inayah Kota Cilegon, yang dugaan keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) dari salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Nasional (SPPG) di Kota Cilegon, Kamis 16 April 2026.
Redy menyampaikan, ada sebanyak 49 siswa MTs Al-Inayah yang diduga mengalami keracunan usai mengkonsumsi MBG tersebut. “Memang terjadi kejadian keamanan pangan, terdampaknya 49 orang. Tadi sekarang di cek barusan, sudah pulang semua. Terakhir ada 12 orang di Puskesmas Cibeber, yang lain 37 orang sudah pulang. Tetapi yang masih observasi ada 12 orang,” ujar Redy saat dikonfirmasi RRI, Senin 20 April 2026.
Namun demikian, Redy menyatakan, pihaknya belum dapat mengetahui dugaan penyebab siswa keracunan. Lantaran, sampai saat ini BGN masih koordinasi dengan pihak terkait untuk melakukan pengujian sampel.
“Kita masih ngecek sampelnya, karena kita tidak bisa menentukan faktornya karena apa. Tetapi kalau dari dari laporan SPPG, proses pemasakan dan sebagainya, tidak ada kendala operasional. Dimasaknya dini hari, kemudian yang dikirim ke MTs dan MA Al Inayah, dimasak jam 4 pagi. Jadi biasanya dikirim itu, MTS atau MA sekitar jam 9 an. Untuk dimakan di jam 11 atau jam istirahatnya jam 12,” ucapnya.
Lebih lanjut Redy menyampaikan, ada beberapa yang dilakukan pengecekan. Mulai dari pendistribusian dari mobil ke sekolah atau dari makanya itu sendiri. “Jadi kita cek, ini faktornya kenapa. Karena yang terdampak di satu sekolah, apakah saat distribusi terdapat kontaminasi ataukah saat misalnya mengangkut dari mobil ke sekolah, itu yang sedang kita cek sampelnya ke BPOM dan Dinkes,” katanya.
Redy menuturkan, pengecekan itu biasanya membutuhkan waktu satu minggu. Di mana pengujian itu dilakukan pengecekan sampel dan spesimen.
“Biasanya satu minggu, Dinkes dan BPOM mengecek. Jadi ada spesimen, ada sampel. Jadi SPPG itu selalu simpan menu yang dikeluarkan hari itu. Menu yang dikeluarkan hari itu, kalau tidak salah, mie ayam, ayam cincang kecap, sayur, tahu goreng dan buah naga. Nah biasanya SPPG, setiap dia produksi satu hari, mereka simpan 1 sampel, mereka simpan di kulkas. Kalau terjadi apa-apa, kita cek. Ini yang dicek BPOM,” ujarnya.
Dengan adanya kejadian itu, kata Redy, SPPG ditutup sementara atau dihentikan operasionalnya. “Dapurnya sementara di non aktifkan, kan tidak boleh beroperasi dulu sekarang, SPPG-nya. Kalau non aktif, kepala SPPG-nya juga sementara tidak beroperasional. Tetapi dia koordinasi untuk cek sampel dan sebagainya, mereka tidak operasional SPPG. Sampai nanti hasil lab keluar dari BPOM dan Dinkes,” ucapnya.
Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Kota Cilegon, Lukiyah mengungkapkan pernyataan yang sama. SPPG di Cibeber itu ditutup sementara sejak Jumat, 17 April 2026 atau satu hari setelah kejadian.
“Dari BGN, untuk sementara dapurnya ditutup dulu sampai batas waktu ditentukan nanti sampai persyaratan yang diinginkan BGN terpenuhi,” ujar Lukiyah.
SPPG itu, kata Lukiyah, dibawah naungan Yayasan Nurani Duafa Indonesia. “Yayasan Nurani Duafa Indonesia, berlokasi di Taman Cilegon Indah. Pemilik Pak Irfan Ali Hakim,” ucapnya.
Terkait dengan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) SPPG itu, kata Lukiyah, sedang direkomendasikan. Surat tinggal menunggu diterbitkan oleh Dinkes.
“SLHS sedang direkomendasi, Iyah. Tinggal suratnya diterbitkan dari dinkes. Sedang direkomendasikan oleh Dinkes, IKL sudah semua, sudah lolos, IPAL sudah. Tinggal menunggu suratnya,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....