Bullying Verbal Tak Boleh Dianggap Sepele
- 26 Jun 2026 17:23 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Serang - Bullying verbal masih menjadi persoalan yang kerap dialami remaja dan tidak boleh dianggap sebagai hal biasa. Meski tidak meninggalkan luka fisik, ejekan, hinaan, maupun komentar yang merendahkan dapat memicu gangguan kesehatan mental apabila terjadi secara berulang.
Psikolog Klinis, Andrea Nuzulia mengatakan, langkah pertama yang perlu dilakukan ketika mengetahui seseorang menjadi korban bullying adalah mendengarkan dan memvalidasi perasaannya. Setelah korban merasa didengar, penting untuk mengidentifikasi bentuk bullying yang dialami, baik terkait kondisi fisik, latar belakang keluarga, ekonomi, maupun hal lain yang menjadi sasaran pelaku.
"Kita dengarkan dulu, kita validasi perasaannya. Jadi biar dia itu melepaskan emosional-emosional yang ada dalam dirinya. Lalu kita lihat apa sebenarnya yang dikatakan pelaku dan apa yang kita identifikasikan sebagai bullying," ujar Andrea, Jumat, 26 Juni 2026.
Menurut Andrea, bullying verbal dapat berdampak serius apabila mulai memengaruhi kehidupan sehari-hari korban. Tanda-tandanya antara lain enggan bersekolah, menarik diri dari lingkungan sosial, mudah menangis, sulit tidur, prestasi akademik menurun, hingga kehilangan rasa percaya diri. Jika kondisi tersebut muncul, korban disarankan segera mendapatkan pendampingan profesional agar dampaknya tidak semakin berat.
Andrea menilai, peran keluarga menjadi sangat penting dalam mendampingi remaja menghadapi berbagai tantangan tersebut. “Lingkungan rumah dan pola asuh yang baik dapat membantu remaja lebih siap menghadapi tekanan serta mencegah mereka terjerumus ke dalam perilaku negatif,” ucapnya.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak menyepelekan persoalan yang dialami remaja, karena setiap individu memiliki batas ketahanan mental yang berbeda dan membutuhkan dukungan sesuai kebutuhannya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....