Validasi Emosi Perlu Batas, Ini Dampaknya Bagi Diri
- 26 Apr 2026 15:12 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Serang - Emosi sering terasa begitu nyata sehingga kerap dianggap selalu perlu divalidasi dalam setiap situasi yang dihadapi seseorang. Padahal, jika semua perasaan langsung dibenarkan tanpa dipahami secara utuh, batas antara yang tepat dan keliru bisa menjadi kabur.
Dalam banyak kondisi, perasaan dapat muncul dari makna yang kita sematkan sendiri terhadap suatu peristiwa yang terjadi. Namun, makna tersebut belum tentu sepenuhnya sesuai dengan fakta objektif, sehingga berisiko membentuk persepsi yang kurang tepat.
Karena itu, sebelum memvalidasi emosi, penting bagi setiap individu untuk terlebih dahulu memahami dari mana perasaan tersebut muncul. Bisa jadi, emosi itu berasal dari pengalaman masa lalu, luka batin, atau pola pikir yang belum disadari.
Dengan kata lain, validasi emosi memang penting sebagai bentuk penerimaan diri dalam kehidupan sehari-hari. Namun, tanpa diiringi refleksi yang tepat, validasi justru dapat memperkuat emosi yang seharusnya perlu dikaji ulang.
Dalam kajian psikologi, validasi emosi berarti mengakui bahwa perasaan seseorang itu nyata tanpa harus selalu membenarkan reaksinya. Artinya, seseorang tetap perlu membedakan secara bijak antara perasaan yang valid dengan respons yang seharusnya dikendalikan.
Seorang psikolog asal Kota Serang, Lian menjelaskan, pemahaman ini penting agar seseorang tidak terjebak pada pembenaran emosi secara terus-menerus.
“Jika semua emosi langsung dibenarkan tanpa dipahami secara mendalam, seseorang bisa terus merasa benar, padahal belum tentu sesuai kenyataan,” ujarnya kepada RRI pada Minggu, 26 April 2026.
Fenomena ini menunjukkan bahwa emosi sering kali terbentuk dari interpretasi pribadi, bukan semata fakta objektif yang benar-benar terjadi. Oleh karena itu, memvalidasi emosi tanpa memahami akar penyebabnya berisiko membuat seseorang terjebak dalam persepsi yang keliru.
Lebih lanjut, kebiasaan mencari validasi dari lingkungan sekitar juga dapat membuat seseorang bergantung pada penilaian orang lain. Akibatnya, individu menjadi lebih sulit mengelola emosi secara mandiri dan cenderung mudah defensif saat menghadapi perbedaan.
Di sisi lain, penting bagi setiap orang untuk mulai membiasakan diri melakukan refleksi terhadap emosi yang dirasakan. Dengan begitu, individu dapat menilai mana perasaan yang perlu direspons dan mana yang cukup dilepaskan.
Tidak kalah penting, sudut pandang dari orang lain yang tepat juga dapat menjadi bentuk “tekanan sehat” yang membantu proses berpikir lebih jernih. Hal ini mendorong seseorang untuk tidak terjebak dalam perasaan sendiri yang belum tentu seburuk yang dibayangkan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....