Dinkes Pandeglang Catat 436 Kasus Depresi Sepanjang 2025

  • 03 Feb 2026 14:51 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Pandeglang - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pandeglang melaporkan temuan kasus gangguan perasaan dan depresi yang menyentuh angka 436 orang sepanjang tahun 2025. Data ini menunjukkan bahwa masalah kesehatan jiwa bukan lagi isu pinggiran, melainkan ancaman nyata bagi produktivitas warga di berbagai kelompok usia. Sementara pada awal tahun 2026, Dinkes juga sudah menangani 11 orang yang teridentifikasi mengalami gejala serupa.

Penanggung jawab Program Kesehatan Jiwa pada Dinkes Pandeglang, Pauzi Ramzih menjelaskan, berdasarkan klasifikasi usia, penderita gangguan mental di Pandeglang didominasi oleh kelompok dewasa pada rentang umur 20 hingga 59 tahun. Kelompok usia produktif ini dinilainya sangat rentan terpapar stres yang berkaitan dengan beban kerja serta tuntutan ekonomi. Kondisi ini sejalan dengan riset Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) yang menempatkan gangguan jiwa sebagai penyebab kedua hilangnya tahun produktif.

​"Sepanjang 2025 kita rekap depresi yang ada di Kabupaten Pandeglang itu 436 orang. Di 2026 baru terdata sekitar 11 orang di bulan Januari yang mengalami gangguan perasaan dan depresi," ucap Pauzi, Selasa 3 Januari 2026. 

Menurut Pauzi faktor risiko kesehatan jiwa terpantau mengikuti seluruh siklus kehidupan manusia, mulai dari masa kehamilan hingga lansia. Ia menerangkan pada ibu hamil, stres kehamilan menjadi pemicu utama, sementara pada remaja sering kali berkaitan dengan masalah tumbuh kembang dan lingkungan sosial. Jika tidak tertangani sejak dini, menurutnya tekanan mental tersebut berpotensi berkembang menjadi depresi akut yang mengganggu fungsi sosial individu.

Pauzi menyebutkan bahwa setiap individu memiliki ambang batas ketahanan mental yang berbeda-beda dalam menghadapi tekanan hidup. Masalah yang dianggap ringan oleh satu orang bisa menjadi beban yang sangat berat bagi orang lain hingga memicu gangguan perasaan. Hal inilah yang dinilainya menyebabkan prevalensi depresi dan kecemasan terus merangkak naik di tengah dinamika masyarakat yang semakin kompleks.

Meskipun angka kasus tergolong tinggi, Dinkes menilai tingkat kesadaran warga Pandeglang untuk memeriksakan kesehatan mental ke fasilitas kesehatan secara mandiri masih sangat rendah. Berbeda dengan wilayah perkotaan seperti Tangerang, Dinkes mencatat warga Pandeglang cenderung enggan datang ke Puskesmas kecuali untuk keluhan fisik. Fenomena ini menjadi kendala besar dalam upaya Dinkes dalam deteksi dini dan pemulihan pasien gangguan jiwa di tingkat bawah.

​"Masalah kesehatan jiwa itu mengikuti semua siklus kehidupan, dari stres kehamilan pada ibu hamil, masalah tumbuh kembang anak remaja, stres kerja usia produktif, hingga depresi pada lansia," katanya.

Untuk memitigasi hal tersebut, Dinkes Pandeglang telah menyiapkan poli kesehatan jiwa di setiap Puskesmas guna melayani pemeriksaan mental dan wawancara klinis. Layanan ini mencakup edukasi kepatuhan obat bagi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) serta konseling bagi Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK).

Rekomendasi Berita