Psikolog Soroti Dampak Berat Cyber Bullying

  • 22 Jan 2026 13:29 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Serang - Perundungan atau bullying tidak hanya terjadi di dunia nyata, tetapi juga semakin marak di ruang digital. Psikolog Klinis, Infanti Wisnu Wardani mengatakan, meski secara dasar memiliki kemiripan, bullying tatap muka dan cyber bullying memiliki perbedaan signifikan yang memengaruhi dampak psikologis korban.

Infanti menjelaskan, bullying secara langsung memiliki batasan ruang dan waktu yang relatif jelas. “Kalau bullying tatap muka, misalnya di sekolah, kita bisa memperkirakan jam dan lokasinya. Biasanya terjadi dari pagi hingga siang hari, sehingga masih ada ruang aman setelah meninggalkan tempat tersebut,” ujarnya kepada RRI, Rabu, 21 Januari 2026.

Berbeda dengan cyber bullying yang terjadi melalui media sosial dan perangkat digital. Menurut Infanti, gawai yang hampir selalu berada di genggaman membuat korban seolah tidak memiliki tempat perlindungan. “Handphone itu kita pegang hampir 24 jam. Bahkan ketika mau meletakkannya saja, kadang muncul rasa cemas,” katanya.

Ia menambahkan, cyber bullying juga meninggalkan jejak digital yang bersifat permanen. Komentar atau unggahan bernada negatif dapat terus diakses meski sudah berlalu lama. “Kalau bullying lisan sifatnya sementara karena tidak ada jejaknya. Tapi di media sosial, komentar seminggu atau sebulan lalu masih bisa dilihat kembali,” ucapnya.

Dari sisi audiens, dampak cyber bullying dinilai lebih luas. Pada bullying di dunia nyata, saksi biasanya terbatas pada lingkungan tertentu seperti sekolah atau kantor. Sementara di media sosial, konten perundungan dapat viral dan disaksikan oleh banyak orang yang bahkan tidak mengenal korban secara personal.

Selain itu, Infanti menyoroti perbedaan identitas pelaku. Dalam bullying tatap muka, korban umumnya mengetahui siapa pelakunya. Namun pada cyber bullying, pelaku kerap menggunakan akun palsu atau anonim. “Banyak yang menggunakan akun tanpa identitas jelas, sehingga sulit ditelusuri, terutama bagi orang yang tidak memahami teknologi,” katanya.

Infanti juga menjelaskan perbedaan antara bullying dan child grooming. Menurutnya, keduanya memiliki pola awal yang berbeda, namun dapat berujung pada dampak psikologis yang serupa. “Bullying langsung menyakiti di awal, sementara grooming justru memberikan validasi dan perhatian melalui love bombing. Tapi efek akhirnya bisa sama-sama melukai,” ujarnya.

Terkait tingginya kebutuhan validasi di kalangan anak muda, Infanti menyebut hal ini berkaitan dengan fase perkembangan psikologis. Anak muda berada pada tahap transisi, merasa sudah dewasa namun belum sepenuhnya matang secara emosional.

“Banyak yang mengalami kondisi tangki cinta kosong. Tidak selalu berasal dari keluarga broken home, tapi bisa juga dari keluarga yang kurang memberikan validasi emosional,” kata Infanti. Kondisi tersebut mendorong anak muda mencari pengakuan dari luar, termasuk melalui media sosial.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....