Media Sosial Picu Bullying Anak Muda

  • 21 Jan 2026 15:20 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Serang - Isu bullying dan child grooming kembali menjadi sorotan publik seiring ramainya perbincangan di media sosial, salah satunya melalui konten Broken String yang mengangkat pengalaman pribadi korban. Fenomena ini mendorong meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan anak dan remaja dari kekerasan psikologis yang kerap terjadi secara tersembunyi.

Psikolog Klinis, Infanti Wisnu Wardani, M.Psi, menjelaskan bahwa anak muda saat ini menjadi kelompok yang sangat rentan mengalami bullying. Salah satu faktor utamanya adalah meluasnya ruang sosial ke dunia digital. Jika sebelumnya perundungan banyak terjadi di lingkungan sekolah dengan waktu terbatas, kini media sosial membuat bullying bisa berlangsung selama 24 jam tanpa henti.

“Perluasan dunia sosial ke ranah digital membuat tekanan tidak lagi berhenti ketika anak pulang ke rumah. Dunia maya membuat paparan bullying menjadi lebih panjang dan intens,” ujar Infanti kepada RRI Rabu, 21 Januari 2026.

Selain itu, perkembangan emosi dan fungsi otak anak muda yang belum sepenuhnya matang turut menjadi faktor pemicu. Di sisi lain, kebutuhan kuat akan penerimaan dan validasi sosial membuat remaja lebih mudah terdampak komentar negatif. Kurangnya literasi emosi dan literasi digital juga memperparah kondisi, terlebih dengan paparan konten media sosial yang cepat dan masif, sehingga memicu perubahan emosi yang tidak stabil.

Infanti juga menyoroti budaya meremehkan perasaan anak muda yang masih sering terjadi di lingkungan sekitar. Ungkapan seperti “cuma bercanda”, “baper”, atau “terlalu sensitif” justru dapat memperdalam luka psikologis korban. Menurutnya, pelabelan bahwa generasi muda terlalu sensitif tidak sepenuhnya adil.

“Bukan semata karena anaknya, tapi karena beban lingkungan saat ini jauh lebih berat dan sering kali tidak terlihat. Tekanan itu bersifat invisible, pelakunya bisa anonim, menggunakan akun palsu, bahkan lebih dari satu akun,” katanya.

Meski demikian, Infanti menilai ada sisi positif dari kondisi saat ini, yakni meningkatnya kesadaran kesehatan mental di kalangan anak muda. Mereka mulai berani menyadari dan membicarakan kondisi psikologisnya. Namun, di sisi lain, paparan media sosial yang berlebihan juga membuat anak mudah membandingkan diri dengan orang lain, termasuk dengan orang yang tidak dikenal, sehingga menambah tekanan mental.

Ia menegaskan bahwa tantangan psikologis anak muda di era digital saat ini memang semakin kompleks. Oleh karena itu, peran keluarga, sekolah, dan lingkungan menjadi sangat penting dalam menciptakan ruang yang aman, empatik, serta mendukung kesehatan mental anak dan remaja.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....