Media Sosial Jadi Tantangan Moderasi Beragama di Kalangan Remaja
- 28 Jul 2026 12:10 WIB
- Banten
Poin Utama
- Media sosial menjadi sarana penyebaran paham radikal yang menggantikan pertemuan fisik dan sulit untuk diawasi.
- Mayoritas pengguna media sosial adalah remaja dengan intensitas penggunaan tinggi, sehingga rentan terhadap narasi intoleransi dan ekstremisme.
- Pusat Moderasi Beragama UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten mengidentifikasi bahwa transformasi metode radikalisasi memerlukan strategi moderasi beragama yang disesuaikan dengan era digital.
RRI.CO.ID, Serang – Perkembangan media sosial menjadi tantangan baru dalam upaya memperkuat moderasi beragama di kalangan generasi muda. Kepala Pusat Moderasi Beragama UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Salim Rosyadi mengatakan, transformasi penyebaran paham radikal kini tidak lagi mengandalkan pertemuan fisik, tetapi memanfaatkan ruang digital yang sulit diawasi.
Dalam dialog Moderasi Beragama di RRI PRO 1 Banten, Selasa, 28 Juli 2026, Salim menjelaskan, sebagian besar pengguna media sosial berasal dari kelompok usia remaja. Tingginya intensitas penggunaan platform digital membuka peluang masuknya berbagai narasi yang mengandung intoleransi maupun ekstremisme.
| Baca juga: Paskah Perkuat Nilai Moderasi Beragama |
Ia menyebut penyebaran paham tersebut bahkan telah merambah grup percakapan, komunitas virtual, hingga fitur komunikasi dalam permainan daring. Situasi tersebut membuat proses indoktrinasi menjadi lebih tersembunyi dibandingkan pola konvensional yang selama ini dikenal masyarakat.
"Kalau dulu kekerasan bersifat konvensional, sekarang radikalisme muncul dalam bentuk platform digital. Penggunanya didominasi generasi muda, bahkan juga yang menariknya itu mereka menyasar kepada gim online," ujar Salim.
Karena itu, Salim menilai keluarga, sekolah, organisasi kepemudaan, dan pemerintah harus membangun sinergi dalam memberikan pendampingan kepada anak-anak dan remaja. Menurutnya, pembatasan penggunaan media sosial saja tidak cukup, melainkan harus disertai edukasi agar generasi muda mampu menggunakan teknologi secara bijak.
Dia juga menilai, pendekatan yang lebih efektif ialah meningkatkan kemampuan literasi digital, membiasakan budaya memverifikasi informasi sebelum membagikannya, serta menghadirkan pendampingan dari keluarga maupun tenaga pendidik. Sekolah juga perlu memperkuat peran guru bimbingan konseling dalam memberikan edukasi mengenai etika bermedia sosial, sedangkan orang tua harus membangun komunikasi terbuka dengan anak terkait aktivitas digital dan lingkungan pergaulannya.
"Yang harus dilakukan bukan hanya membatasi media sosial, tetapi mengarahkan penggunaannya agar tidak mematikan kreativitas generasi muda," katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....