Riset Ungkap Perilaku Investor Pengaruhi Pasar Saham
- 26 Jan 2026 15:51 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Serang - Pasar saham Indonesia dinilai belum sepenuhnya bergerak secara efisien. Hal ini terungkap dalam penelitian berjudul Fenomena Anomali Pasar dan Perilaku Investor dalam Aktivitas Perdagangan Saham di Indonesia yang ditulis oleh Novi Tri Setyaningrum dan Oman Rusmana dari Universitas Jenderal Soedirman.
Dalam jurnal yang dikutip oleh RRI, Senin, 26 Januari 2026 menyatakan penelitian tersebut mengkaji berbagai bentuk anomali pasar yang masih muncul di Bursa Efek Indonesia (BEI), meskipun teori pasar efisien menyatakan bahwa harga saham seharusnya mencerminkan seluruh informasi yang tersedia. Kajian dilakukan menggunakan metode studi pustaka kualitatif dengan menganalisis hasil penelitian terdahulu serta literatur ilmiah yang relevan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejumlah anomali pasar masih konsisten terjadi di Indonesia. Beberapa di antaranya adalah day of the week effect, January effect, market overreaction, serta size effect. Fenomena ini menandakan bahwa pergerakan harga saham tidak selalu didorong oleh faktor fundamental, tetapi juga dipengaruhi oleh perilaku investor.
Penulis jurnal, Novi Tri Setyaningrum, menjelaskan dominasi investor ritel di pasar modal Indonesia menjadi salah satu faktor utama munculnya anomali tersebut. “Keputusan investasi sering kali dipengaruhi oleh sentimen, rumor, dan respons emosional terhadap informasi, sehingga menantang asumsi rasionalitas investor dalam teori pasar efisien,” ujar Novi.
Menurutnya, temuan ini memperkuat pendekatan behavioral finance yang melihat pasar modal sebagai refleksi perilaku manusia, bukan semata mekanisme ekonomi rasional. Investor cenderung bereaksi berlebihan terhadap berita tertentu, mengikuti tren mayoritas, atau menunda pengambilan keputusan karena faktor psikologis.
Penelitian ini juga menyoroti bahwa anomali pasar dapat menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, fenomena tersebut membuka peluang bagi investor untuk merancang strategi investasi tertentu. Namun di sisi lain, anomali juga berpotensi meningkatkan volatilitas pasar apabila tidak diimbangi dengan literasi dan manajemen risiko yang memadai.
“Pemahaman terhadap pola-pola anomali pasar penting, tidak hanya bagi investor, tetapi juga bagi regulator dalam merumuskan kebijakan yang menjaga stabilitas pasar modal,” kata Novi.
Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya literatur akademik mengenai perilaku pasar modal Indonesia sekaligus menjadi referensi praktis bagi investor dan pemangku kepentingan. Dengan memahami bahwa pasar tidak selalu bergerak rasional, pelaku pasar diharapkan mampu mengambil keputusan yang lebih bijak dan terukur di tengah dinamika perdagangan saham.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....