Mengenal Istilah ARA dan ARB dalam Saham
- 23 Jan 2026 18:34 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Cilegon - Dalam aktivitas perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), investor kerap menemui istilah ARA dan ARB. Dua istilah ini sering muncul saat pergerakan harga saham mengalami lonjakan atau penurunan signifikan dalam satu hari perdagangan. Memahami ARA dan ARB menjadi penting, terutama bagi investor pemula, agar dapat mengambil keputusan investasi secara lebih bijak.
Pembina Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) Universitas Al-Khairiyah Cilegon, Maya Arisandy menjelaskan, mekanisme auto rejection bertujuan menjaga stabilitas pasar.
"ARA merupakan singkatan dari Auto Rejection Atas. Kondisi ini terjadi ketika harga saham naik hingga batas maksimal yang telah ditentukan oleh bursa dalam satu hari perdagangan. Saat menyentuh batas tersebut, sistem secara otomatis menolak transaksi beli di harga yang lebih tinggi", ujarnya saat ditemui oleh RRI pada Jumat, 23 Januari 2026.
Sebaliknya, ARB atau Auto Rejection Bawah terjadi ketika harga saham turun hingga batas penurunan maksimum harian, sehingga sistem menolak transaksi jual di harga yang lebih rendah. Menurutnya ARA dan ARB adalah instrumen perlindungan bagi investor agar pergerakan harga saham tidak terlalu ekstrem dalam satu hari perdagangan.
Biasanya batas ARA dan ARB ditetapkan BEI berdasarkan kelompok harga saham. Untuk saham dengan harga tertentu, persentase kenaikan dan penurunan hariannya sudah diatur agar tidak menimbulkan volatilitas berlebihan.
“Dengan adanya batasan ini, investor punya waktu untuk menganalisis informasi yang beredar dan tidak terjebak euforia atau kepanikan sesaat,” katanya.
Ia menambahkan, saham yang menyentuh ARA sering kali menarik perhatian karena dianggap memiliki sentimen positif yang kuat. Namun, investor tetap perlu berhati-hati.
“Saham ARA belum tentu selalu aman untuk dibeli. Bisa jadi kenaikan tersebut dipicu rumor atau sentimen jangka pendek,” kata Maya.
Hal yang sama berlaku pada saham ARB, yang tidak selalu mencerminkan kondisi fundamental perusahaan yang buruk.
Maya juga menekankan pentingnya literasi pasar modal, khususnya bagi mahasiswa dan investor muda. Memahami istilah teknis seperti ARA dan ARB dapat membantu investor mengelola risiko dan menyusun strategi investasi yang lebih rasional.
“Investasi saham bukan soal ikut-ikutan, tetapi soal analisis dan perencanaan,” ujarnya.
Dengan memahami mekanisme ARA dan ARB, investor diharapkan mampu bersikap lebih tenang dalam menghadapi dinamika pasar. Edukasi yang berkelanjutan menjadi kunci agar aktivitas investasi dapat memberikan hasil optimal dan berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....