Filosofi Ibadah Haji yang Jarang Diketahui Umat Islam

  • 07 Mei 2026 06:35 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Serang - Pemahaman filosofi ibadah haji dinilai penting untuk meningkatkan kualitas spiritual umat Islam, bukan sekadar menjalankan ritual semata. Hal ini disampaikan Sekretaris MUI Provinsi Banten, Ustaz Deni Rusli dalam program Mutiara Pagi bersama RRI Pro 1 Banten, Kamis, 7 Mei 2026.

“Ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju tanah suci, tetapi setiap rukun menyimpan makna spiritual yang sangat dalam. Tanpa pemahaman, jemaah bisa terjebak pada rutinitas mekanis yang hampa nilai batiniah,” katanya.

Menurutnya, rukun haji seperti ihram, wukuf, tawaf, hingga sa’i memiliki filosofi yang dapat membentuk karakter manusia. Ihram, misalnya, melambangkan pelepasan atribut duniawi dan pengingat bahwa manusia akan kembali kepada Allah dalam keadaan sederhana.

“Dengan mengenakan kain ihram, manusia diingatkan bahwa semua sama di hadapan Allah, tanpa perbedaan jabatan maupun kekayaan. Ini momentum mematikan ego dan kesombongan yang sering melekat dalam diri manusia,” ujarnya.

Selain itu, wukuf di Arafah disebut sebagai puncak ibadah haji yang menggambarkan kondisi manusia di Padang Mahsyar. Pada momen tersebut, seluruh jemaah melebur tanpa perbedaan status sosial dan fokus memohon ampun kepada Allah.

Menurut Ustaz Deni, momen wukuf menjadi sarana introspeksi diri bagi setiap muslim agar menyadari hakikat kehidupan. Ia mengatakan manusia perlu memahami asal-usul kehidupan dan tujuan akhir setelah hidup di dunia.

“Wukuf di Arafah mengajarkan manusia untuk mengenal dirinya sendiri dan menyadari bahwa kehidupan dunia hanya sementara. Dari Allah kita berasal dan kepada Allah pula kita akan kembali,” ucapnya.

Ustaz Deni menegaskan, makna-makna tersebut seharusnya mampu mengubah cara pandang umat Islam dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Ibadah tidak hanya bersifat simbolik, tetapi harus berdampak pada perilaku yang lebih baik.

“Tawaf mengajarkan bahwa Allah adalah pusat kehidupan, sedangkan sa’i mengajarkan pentingnya ikhtiar maksimal yang diiringi tawakal. Jika filosofi ini dipahami, ibadah haji akan membentuk pribadi yang lebih taat dan bermanfaat bagi sesama,” katanya.

Ia berharap calon jemaah haji maupun yang telah menunaikan ibadah haji dapat terus meningkatkan kualitas diri dengan memahami nilai-nilai spiritual di balik setiap rukun ibadah. Menurutnya, kemabruran haji tidak hanya terlihat saat berada di tanah suci, tetapi juga melalui perubahan sikap dan perilaku setelah kembali ke lingkungan masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....