Julia Jacklin Rilis The Gem, Temukan Makna Kebebasan

  • 28 Sep 2026 15:39 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Serang - Penulis lagu asal Australia, Julia Jacklin, merilis album studio terbarunya, The Gem, pada Jumat, 25 September 2026. Bersamaan dengan perilisan album tersebut, Jacklin juga membagikan single keempat berjudul “If I Had The Hand Of God” yang terinspirasi dari perjalanan surealisnya ke Nashville.

“If I Had The Hand Of God” menjadi perenungan Jacklin mengenai kehidupan seorang musisi yang kerap menjalani tur serta pertanyaan tentang arti penting sebuah warisan karya. Lagu ini melanjutkan eksplorasi personal Jacklin dalam The Gem, yang mempertemukan pengalaman hidup, musik, kebebasan, dan keinginan untuk tetap memiliki ruang personal.

Album The Gem diproduseri oleh Julia Jacklin bersama Robert Muinos dan direkam sepenuhnya di Melbourne. Berisi 10 lagu, album ini dirilis dalam format digital, CD, kaset, dan vinyl. Edisi vinyl berwarna juga tersedia dalam sejumlah varian, termasuk Turquoise, Green Opal, Ruby, dan Rose Quartz.

“Aku ingin mencintai dan dicintai, tapi aku juga ingin bebas. Ketegangan antara kedua hal itu telah menjadi pertanyaan utama dalam hidupku”, ujar Jacklin dalam rilis yang diterima RRI, Senin, 28 September 2026.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu gagasan utama yang mendasari keseluruhan album The Gem dan menggambarkan pergulatan antara kebutuhan untuk terhubung dengan orang lain serta keinginan mempertahankan kebebasan.

Proses pembuatan album berlangsung di Melbourne, tepatnya di studio Rat Shack milik Robert Muinos yang berada di atas pub The Gem di kawasan Collingwood. Jacklin mengajak Jacob Diamond pada gitar, Mimi Gilbert pada bas, dan Jess Elwood pada drum untuk merekam album di ruang sempit bekas kamar penginapan. Keterbatasan lokasi justru menghadirkan karakter tersendiri melalui suara aktivitas salon, studio tato, band yang tampil, hingga suasana dapur di bawah ruang rekaman.

Jacklin awalnya memperkirakan album tersebut dapat diselesaikan dalam waktu dua minggu. Namun, prosesnya berkembang menjadi eksperimen hampir setahun hingga menghasilkan karya yang benar-benar ia sukai. “Proses pengerjaan The Gem terasa seperti sebuah metafora bagi keseluruhan proses itu sendiri, karena banyak tahapannya memang terasa seperti kegiatan menggali. Rasanya seperti saya bekerja dalam ketidakpastian, hanya berbekal keyakinan bahwa saya akan menemukan sesuatu,” ujar Jacklin.

Perjalanan tersebut kemudian menjadi bagian penting dari identitas The Gem, yang menggambarkan proses menemukan kembali jati diri sekaligus mempercayai naluri. Pada hari terakhir sesi rekaman, seluruh anggota band membuat tato berbentuk lingkaran kecil yang melambangkan batu opal, batu permata favorit Jacklin.

“Sungguh terasa bahwa kami telah melakukan sesuatu yang istimewa bersama-sama. Dan menurut saya, sebagai sebuah grup, penting rasanya untuk mengabadikan momen tersebut. Saya senang kami semua kini memiliki ‘permata-permata kecil’ ini pada tubuh kami,” kata Jacklin.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....