Jalan Sunyi Alvin Hardianto Membangun Karier dari Balik Layar

  • 15 Mei 2026 18:37 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Tangsel – Nama Alvin Hardianto kian dikenal di lingkaran musik independen Tangerang Selatan. Musisi sekaligus arranger kelahiran 1993 itu memilih membangun karier dari balik layar mengerjakan aransemen, produksi, hingga penulisan lagu untuk berbagai penyanyi dan kreator tanpa harus berdiri di depan panggung.

"Saya lebih suka di belakang layar, karena di situ saya merasa lebih bebas," ujar Alvin Hardianto saat berbagi cerita mengenai perjalanan bermusiknya di Pro2 RRI Banten.

Perjalanan Alvin tidak dimulai dari jalur yang lurus. Sejak kecil, ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang akrab dengan musik. Sang kakek, Soekemi, dikenal sebagai seniman keroncong sekaligus pemain biola yang pernah satu grup dengan almarhum Idris Sardi.

Pengalaman kerap menemani sang kakek berlatih, membuat Alvin mengenal musik bukan sekadar hiburan, melainkan ruang ekspresi yang menyatu dengan kehidupan sehari-hari. Memasuki masa remaja, Alvin sempat menekuni gitar elektrik dan bergelut dengan musik rock.

Namun ia merasa jalur itu belum sepenuhnya membuatnya berkembang. Ia pun beralih ke gitar akustik, khususnya solo fingerstyle, dan mulai serius mendalaminya sekitar tahun 2013.

"Awalnya saya gitaris. Tapi ketika belajar keyboard dan piano, saya merasa instrumen itu lebih bisa menyalurkan perasaan saya," ujar Alvin.

Titik balik datang sekitar 2017, ketika Alvin mulai terjun ke dunia home recording. Dari sana, ia mempelajari penggunaan DAW dan proses produksi musik secara menyeluruh. Kebutuhan membuat aransemen mendorongnya belajar keyboard dan piano yang kemudian mengubah arah kariernya secara signifikan.

Kini Alvin lebih banyak dikenal sebagai arranger. Dalam mengerjakan aransemen, ia mengutamakan melodi, lirik, dan rasa keseluruhan lagu. Pendekatannya sederhana namun emosional sebuah prinsip yang ia pegang teguh dalam setiap karya.

"Saya lebih suka aransemen yang sederhana tapi emosional. Buat segalanya menjadi simpel, tapi tetap menyentuh intinya," ucap Alvin.

Perjalanan itu tidak selalu mudah. Alvin mengakui pernah melewati fase berat, termasuk ketika pilihan bermusiknya belum sepenuhnya mendapat dukungan dari keluarga. Namun dorongan dari dalam dirinya terus membawanya kembali pada musik.

Bagi Alvin, proses panjang itu mengajarkan bahwa musik bukan hanya soal karya yang terdengar bagus. Lebih dari itu, musik adalah soal kejujuran rasa yang mampu sampai kepada pendengar.

"Musik itu seperti media bahasa perasaan yang bisa dirasakan pendengarnya. Saya cukup bahagia kalau seseorang bisa merasakan apa yang saya sampaikan lewat musik saya," ucapnya.

Ke depan, Alvin tengah menyiapkan sejumlah proyek kolaborasi dengan penyanyi dan mulai mengeksplorasi warna musik elektronik. Ia berharap dalam satu hingga dua tahun ke depan, publik dapat mengenalnya sebagai musisi yang bekerja dengan rasa, bukan sekadar membuat musik terdengar bagus, tetapi menghadirkan karya yang benar-benar membuat orang merasakan sesuatu

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....