Seraphic Shades Membawa Dream Pop ke Ruang Emosi yang Sunyi
- 15 Mei 2026 12:46 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Cilegon – Banten kembali kehadiran talenta berbakat dari dunia musik. Kali ini sebuah unit Dream Pop mencuat dari Kota Cilegon. Adalah Seraphic Shades, kuartet yang lahir pada akhir tahun 2025 lalu.
Digawangi Chachalia Nurma Hera, Sakti Handika, Rafi Putra Dewangga, Syahrul Rafli, dan Jeffry Timothy, Seraphic Shades membangun identitas musikal yang terasa puitis tetapi tetap mudah didekati lewat karya perdana bertajuk All I Do.
Lagu ini bergerak di atas cerita tentang seseorang yang terus berusaha menjadi cukup bagi orang yang dicintainya—namun pada akhirnya sadar bahwa seluruh pengorbanan itu tak pernah benar-benar dihargai.
Ada rasa kecewa, luka, hingga kemarahan yang perlahan tumbuh di balik liriknya, tetapi semuanya disampaikan tanpa ledakan berlebihan. Seraphic Shades justru memilih pendekatan emosional yang subtil, membiarkan nuansa lagu berbicara perlahan sebelum akhirnya menghantam di bagian akhir.
Secara lirik, “All I Do” menyoroti bagaimana janji-janji manis perlahan kehilangan makna ketika realitas berjalan ke arah yang berbeda. Kata-kata seperti “selamanya” dan “berharga” yang awalnya terdengar meyakinkan, berubah menjadi sesuatu yang kosong ketika hubungan mulai retak. Lagu ini menangkap perasaan ditinggalkan oleh seseorang yang pergi begitu saja, seolah tidak pernah meninggalkan luka apa pun.
“Lagu ini lahir dari rasa capek karena terus mencoba jadi cukup buat seseorang, tapi ujung-ujungnya semua usaha itu kayak enggak pernah dianggap ada,” ujar salah seorang personelnya, Sakti Handika, Jumat, 15 Mei 2026.
Di tengah banyaknya rilisan alternatif yang berlomba terdengar megah dan kompleks, Seraphic Shades justru menarik perhatian lewat kesederhanaan atmosfer yang mereka bangun.
Mereka tidak terdengar ingin menjadi band paling bising di ruangan, tetapi cukup percaya diri untuk menciptakan ruang kecil tempat pendengarnya bisa tenggelam sejenak dalam nostalgia, patah hati, dan gema-gema perasaan yang sulit dijelaskan.
“Kami ingin ‘All I Do’ terdengar dreamy dan ringan di permukaan, tapi ketika didengar lebih dalam, ada rasa marah dan kecewa yang sebenarnya cukup personal,” ucap dia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....