Kataswara Lepas Single Terbaru Menyesal Baca Berita

  • 05 Jan 2026 16:23 WIB
  •  Banten

KBRN, Serang: Di tengah derasnya arus informasi dan hiruk-pikuk kabar yang datang silih berganti, kolektif seni Kataswara merilis single terbaru berjudul Menyesal Baca Berita. Lagu ini menjadi ruang perenungan sekaligus ekspresi kelelahan batin generasi yang hidup dalam limpahan fakta, namun kian kehilangan rasa kemanusiaan.

Menyesal Baca Berita bukan sekadar respons atas realitas sosial, melainkan keluhan lirih yang lahir dari rutinitas membaca berita setiap hari. Melalui balutan warna hitam-putih, Kataswara menumpahkan rasa muak, getir, dan kekosongan yang muncul ketika dunia tampak semakin nyata di layar, tetapi perlahan kehilangan denyut manusianya.

Tak ada amarah yang meledak-ledak dalam lagu ini. Yang hadir justru keputusasaan yang berjalan pelan, mengajak pendengar menatap absurditas zaman dengan kepala tertunduk. Lagu ini seolah menjadi monumen kecil bagi kebingungan kolektif, saat fakta berubah menjadi hiburan dan kesedihan menjadi tontonan.

Dengan aransemen alternatif yang bergerak di antara diam dan ledakan, Menyesal Baca Berita menghadirkan ruang bagi pendengar untuk berhenti sejenak dari dunia yang terus berputar tanpa arah. Lagu ini tidak berbicara tentang berita semata, melainkan tentang manusia yang perlahan lelah menjadi saksi.

“Lagu ini kami tulis dari rasa muak dan lelah yang pelan-pelan menumpuk. Membaca berita hari ini seperti menatap cermin retak kita tahu itu menyakitkan, tapi tetap kita pandangi,” ujar Kataswara dalam rilis yang diterima RRI, Senin (5/1/2026).

Bagi Kataswara, Menyesal Baca Berita adalah doa sumbang bagi mereka yang masih percaya bahwa kebenaran bisa disuarakan dengan cara yang puitis, sarkastik, dan jujur. Lagu ini tidak menawarkan solusi, tetapi membuka ruang untuk tertawa getir, menyesal, dan merenung bersama.

Kataswara sendiri merupakan kolektif seni berbasis di Tasikmalaya yang kerap bereksperimen di wilayah nada, kata, suara, dan teater. Dalam setiap karyanya, Kataswara memadukan puisi, musik, dan performa tubuh dalam satu napas pertunjukan. Bagi mereka, kata bukan sekadar bahasa, melainkan bentuk perlawanan yang bernada.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....