Seren Taun Cisungsang, Harmoni Manusia Alam Leluhur

  • 04 Okt 2026 09:36 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Lebak - Di kaki Gunung Halimun, suasana berbeda terasa di Desa Adat Cisungsang. Setiap tahun, ribuan orang berkumpul dalam sebuah perhelatan adat yang berlangsung meriah, namun tetap sarat dengan kekhidmatan.

Perhelatan itu adalah Seren Taun, sebuah ritual adat yang telah berlangsung secara turun-temurun di tengah masyarakat Kasepuhan Cisungsang. Bagi masyarakat adat Cisungsang, Seren Taun bukan sekadar pesta rakyat untuk merayakan hasil panen.

Lebih dari itu, tradisi ini menjadi bentuk doa, penghormatan, sekaligus ikatan antara manusia, alam, dan leluhur. Suara musik tradisional mengiringi rangkaian kegiatan. Warga membawa hasil bumi, terutama padi, sebagai simbol rasa syukur atas hasil panen yang telah mereka terima.

Ketua Kasepuhan Cisungsang, Usep Suyatma, mengatakan masyarakat adat telah melaksanakan ritual tersebut selama ratusan tahun. Seren Taun digelar setiap tahun setelah masyarakat menyelesaikan masa panen.

"Seren Taun ini sudah kami laksanakan secara turun-temurun selama ratusan tahun. Ini merupakan salah satu budaya yang paling besar di Kasepuhan Cisungsang," ujar Usep Suyatma, Sabtu, 3 Oktober 2026.

Istilah Seren Taun memiliki makna yang erat dengan prosesi yang dilakukan masyarakat. Kata "seren" berarti menyerahkan, sedangkan "taun" berarti tahun. Makna tersebut kemudian diwujudkan dalam prosesi penyerahan hasil bumi sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala hasil yang telah diberikan selama satu tahun.

Sekretaris Adat Kasepuhan Cisungsang, Heriana Hatra atau yang akrab disapa Kang Hotchi, mengatakan hasil panen yang melimpah tidak semata-mata dipandang sebagai buah kerja keras manusia. "Ini bukan hanya karena hasil kerja keras manusia. Bagi masyarakat adat, semua hasil yang kita dapatkan merupakan atas izin Yang Maha Kuasa," kata Kang Hotchi.

Karena itu, rasa syukur menjadi bagian penting dalam setiap rangkaian Seren Taun. Warga membawa padi dan berbagai hasil kebun untuk dikumpulkan dalam suasana penuh sukacita. Bagi masyarakat adat Cisungsang, padi memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar bahan pangan.

Padi dipandang sebagai bagian penting dari kehidupan dan keberlangsungan masyarakat.

Di tengah rangkaian ritual, alunan angklung buhun terdengar. Bunyi alat musik tradisional itu menjadi salah satu penanda kuat bahwa tradisi leluhur sedang berlangsung.

Angklung buhun tidak hanya hadir sebagai hiburan. Bagi masyarakat adat Cisungsang, kesenian tersebut memiliki makna spiritual yang menyatu dengan rangkaian ritual Seren Taun. Kang Hotchi menjelaskan, alunan angklung buhun menjadi bagian dari komunikasi spiritual masyarakat dengan sosok padi melalui tembang-tembang yang dilantunkan dalam ritual.

"Alunan angklung buhun dalam Seren Taun bukan hanya sekadar seni. Ini merupakan bagian dari komunikasi spiritual dengan sosok padi melalui alunan tembang-tembang," ujar Kang Hotchi.

Melalui tembang dan doa, masyarakat menyampaikan harapan atas kesuburan tanah, keseimbangan alam, serta keberkahan bagi kehidupan manusia.

Wakil Bupati Lebak, Amir Hamzah mengatakan, tradisi tersebut mengandung nilai kebersamaan, gotong royong, rasa syukur, serta kepedulian terhadap kelestarian lingkungan. Ia juga mendorong generasi muda untuk mengenal dan turut melestarikan budaya daerah agar tidak tergerus perkembangan zaman.

Ritual tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kehidupan masyarakat adat tidak dapat dipisahkan dari alam. Tanah, air, tanaman, dan hasil bumi menjadi bagian dari keseimbangan yang harus dijaga bersama.

Tradisi yang dahulu berlangsung terutama di lingkungan masyarakat adat, kini semakin dikenal oleh masyarakat luas. Seren Taun Cisungsang mulai menarik perhatian warga dari berbagai daerah.

Wisatawan dari luar daerah bahkan dari mancanegara turut datang untuk menyaksikan rangkaian tradisi tersebut. Kehadiran mereka membuat suasana perayaan semakin semarak tanpa menghilangkan nilai adat yang menjadi inti kegiatan.

Perkembangan itu membuat Seren Taun Cisungsang tidak hanya menjadi tradisi budaya masyarakat setempat, tetapi juga berkembang sebagai daya tarik budaya dan pariwisata. Festival Seren Taun Cisungsang kini tercatat masuk dalam Karisma Event Nusantara.

Status tersebut menjadi salah satu momentum bagi masyarakat adat untuk memperkenalkan tradisi mereka kepada khalayak yang lebih luas. Usep Suyatma berharap masuknya Seren Taun Cisungsang dalam Karisma Event Nusantara dapat memberikan ruang lebih besar bagi tradisi tersebut untuk dikenal.

"Kami berharap dengan masuknya Seren Taun Cisungsang dalam Karisma Event Nusantara, kegiatan ini semakin besar dan semakin dikenal luas," ucap Usep.

Bagi masyarakat Cisungsang, semakin dikenalnya Seren Taun bukan berarti nilai adatnya harus berubah. Justru, perhatian yang semakin luas diharapkan menjadi kesempatan untuk menjaga dan memperkenalkan warisan leluhur kepada generasi berikutnya.

"Seren Taun ini bukan hanya milik masyarakat adat Cisungsang. Sekarang sudah menjadi kebanggaan nasional dan mulai dikenal di panggung internasional," kata Usep Suyatma.

Di kaki Gunung Halimun, tradisi itu terus hidup. Padi dikumpulkan, doa dipanjatkan, angklung buhun dimainkan, dan masyarakat kembali mengingat satu pesan penting: manusia hidup berdampingan dengan alam dan memiliki tanggung jawab untuk menjaganya. Seren Taun pun menjadi lebih dari sebuah perayaan setelah panen.

Ia adalah perjalanan budaya yang mempertemukan rasa syukur, penghormatan kepada leluhur, kecintaan terhadap alam, dan harapan akan kehidupan yang terus diberkahi

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....