Secangkir Kopi, Sepenggal Harapan Jaenuri

  • 16 Sep 2026 14:38 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Lebak - Pagi baru saja beranjak ketika denyut kehidupan mulai terasa di kawasan Pasar Rangkasbitung. Suara pedagang menawarkan dagangan, deru angkutan umum, serta langkah kaki pembeli bercampur menjadi satu, menandai dimulainya aktivitas ekonomi masyarakat.

Bagi sebagian orang, pasar mungkin sekadar tempat untuk berbelanja. Namun bagi banyak warga, Pasar Rangkasbitung adalah tempat menggantungkan harapan. Dari tempat inilah mereka berusaha memperoleh penghasilan untuk menyambung kehidupan keluarga. Salah seorang di antara mereka adalah Jaenuri.

Pria paruh baya asal Kampung Kedung, Desa Pabuaran, Kecamatan Rangkasbitung, itu setiap hari datang ke kawasan pasar untuk menjajakan kopi. Perjalanan menuju pasar bukanlah perkara mudah bagi Jaenuri. Dari desanya, ia harus menempuh perjalanan menggunakan angkutan umum demi bisa sampai ke tempatnya mencari nafkah.

Setibanya di kawasan pasar, Jaenuri mulai menyiapkan gerobak kopinya. Sekitar pukul 07.30 WIB, aktivitas berjualan pun dimulai. Secangkir demi secangkir kopi ia tawarkan kepada orang-orang yang berlalu-lalang.

Sudah lebih dari setahun Jaenuri menjalani pekerjaan tersebut. Perjalanannya sebagai pedagang kopi bermula dari berjualan secara asongan sebelum akhirnya ia mampu memiliki gerobak sendiri. Gerobak sederhana itu memiliki arti tersendiri bagi Jaenuri.

Bukan gerobak mewah, tetapi dibuat khusus oleh anaknya agar sang ayah bisa berjualan dengan lebih nyaman. Di balik gerobak sederhana itu, tersimpan perjuangan seorang ayah untuk keluarganya.

Setiap hari ia membawa modal sekitar Rp100 ribu hingga Rp150 ribu untuk membeli berbagai kebutuhan dagangannya. Namun, modal sebesar itu tidak selalu kembali dalam bentuk keuntungan yang memadai. Ada kalanya setelah seharian berjualan, uang yang dibawa pulang hanya tersisa beberapa rupiah.

Persaingan menjadi salah satu alasan pendapatan Jaenuri tidak menentu. Di sekitar kawasan Pasar Rangkasbitung, cukup banyak pedagang kopi keliling yang juga menawarkan dagangan kepada para pembeli dan pekerja pasar. Kondisi itu membuat Jaenuri harus lebih bersabar. Ia tidak pernah tahu secara pasti berapa penghasilan yang akan diperolehnya setiap hari.

Meski demikian, ia tetap mendorong gerobaknya dan menawarkan kopi kepada siapa saja yang membutuhkan. Baginya, selama masih ada kesempatan untuk bekerja, tidak ada alasan untuk berhenti berusaha.

"Saya tetap jualan karena masih ingin berusaha. Walaupun hasilnya tidak tentu, yang penting saya bisa mencari rezeki untuk keluarga," ujar Jaenuri, Rabu, 16 September 2026. Jaenuri merupakan ayah dari empat orang anak. Penghasilan dari berjualan kopi menjadi salah satu tumpuan untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.

Kebutuhan rumah tangga yang terus berjalan terkadang terasa berat ketika pendapatan tidak sebanding dengan pengeluaran. Apalagi, masih ada seorang anak yang membutuhkan biaya untuk pendidikan.

Bagi Jaenuri, pendidikan anak merupakan tanggung jawab yang tidak bisa begitu saja ditinggalkan. Karena itu, sekecil apa pun penghasilan yang diperoleh, tetap ia syukuri dan berusaha digunakan sebaik mungkin.

Usianya yang tidak lagi muda juga membuat pilihan pekerjaan semakin terbatas. Mencari pekerjaan lain bukan perkara mudah, terlebih bagi seseorang yang sudah memasuki usia paruh baya.

Karena itulah, gerobak kopi sederhana tersebut menjadi sandaran Jaenuri. Setiap pagi ia kembali ke pasar, membawa modal, perlengkapan dagangan, dan harapan agar hari itu membawa rezeki lebih baik.

Perjuangan menghidupi keluarga juga dilakukan oleh sang istri. Di rumah, istrinya membuka warung sederhana untuk membantu menambah pemasukan keluarga. Keduanya menjalani pekerjaan masing-masing dengan cara sederhana.

Tidak ada kepastian berapa rupiah yang akan terkumpul setiap hari, tetapi ada keyakinan bahwa kebutuhan keluarga harus tetap diperjuangkan. Bagi Jaenuri, berdagang bukan semata-mata soal berapa banyak uang yang bisa dibawa pulang.

Ada harga diri dan tanggung jawab sebagai seorang ayah yang ingin terus melakukan sesuatu untuk keluarganya. "Saya percaya rezeki itu sudah ada yang mengatur. Allah tidak akan salah memberikan rezeki kepada orang yang mau berusaha," katanya.

Keyakinan itulah yang membuat Jaenuri tetap bertahan di tengah persaingan para pedagang kopi. Ketika pembeli datang, ia melayani dengan ramah. Ketika pasar sepi, ia tetap menunggu sambil berharap ada pelanggan berikutnya.

Hari demi hari berlalu dengan pola yang hampir sama. Berangkat dari rumah, menempuh perjalanan dengan angkot, membuka gerobak sekitar pukul 07.30 WIB, lalu menunggu pembeli hingga aktivitas pasar berakhir.

Di tengah hiruk-pikuk Pasar Rangkasbitung, Jaenuri mungkin hanyalah satu dari sekian banyak orang yang mencari nafkah. Namun dari gerobak kopi sederhananya, ia sedang menjalani sebuah perjuangan: menjaga dapur tetap mengepul, membantu pendidikan anak, dan mempertahankan harapan keluarganya.

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠Secangkir kopi yang dijajakannya bukan sekadar minuman bagi para pembeli. Bagi Jaenuri, setiap gelas yang terjual adalah bagian kecil dari ikhtiar panjang untuk keluarganya. Selama tubuh masih mampu bekerja dan gerobaknya masih bisa didorong, ia akan terus datang ke pasar, karena baginya, harapan selalu tumbuh bersama kemauan untuk berusaha.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....