Dari Pabrik ke Atap Rumbia, Aji Buka Lapangan Kerja
- 26 Agt 2026 15:00 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Lebak - Suara bambu dan aktivitas tangan yang cekatan menjadi pemandangan sehari-hari di rumah Aji, warga Kampung Pasir Eurih, Desa Bojongcae, Kecamatan Cibadak. Di tempat sederhana itu, sejumlah ibu rumah tangga tampak sibuk menjahit daun sagu pada bilah-bilah bambu hingga berubah menjadi atap rumbia.
Di tengah kesibukan para pekerja, Aji, pria paruh baya itu, sesekali berbincang dengan tetangganya. Dari obrolan ringan tersebut, terselip kisah tentang perjalanan hidupnya membangun usaha yang kini turut menghidupi warga sekitar.
Usaha membuat atap rumbia telah dijalani Aji selama kurang lebih empat tahun. Pilihan itu muncul setelah dirinya berhenti bekerja di sebuah pabrik di Jakarta.
Ia melihat peluang usaha yang belum banyak dilirik orang di daerahnya. “Awalnya saya melihat prospeknya bagus, karena waktu itu belum ada yang memulai usaha atap rumbia,” ujar Aji, Rabu, 26 Agustus 2026.
Namun, memulai usaha bukan perkara mudah. Untuk mendapatkan bahan baku, Aji harus menempuh perjalanan cukup jauh hingga ke Cikeusal dan Pamarayan, Kabupaten Serang.
Dengan modal sekitar Rp25 ribu untuk satu ikat daun sagu, Aji dapat menghasilkan hingga 25 lembar atap rumbia. Setiap lembar kemudian dijual dengan harga Rp2.500 hingga Rp3.000.
Harga tersebut memang belum sepenuhnya sebanding dengan biaya modal dan proses produksi. Meski begitu, Aji memilih tetap menjalani usaha tersebut dengan penuh syukur.
“Memang harganya tidak terlalu tinggi dibanding modal dan biaya produksinya, tapi saya tetap bersyukur karena usaha ini masih bisa memberikan penghasilan,” katanya.
Atap rumbia buatan Aji ternyata memiliki pasar yang cukup luas. Pesanan datang dari sejumlah daerah, seperti Jakarta, Tangerang, Bogor, dan wilayah sekitarnya.
Lebih dari sekadar mencari penghasilan, usaha itu juga menjadi jalan bagi Aji untuk membuka kesempatan kerja bagi ibu-ibu rumah tangga di lingkungan tempat tinggalnya. Kini, delapan orang telah bekerja membantu proses produksi atap rumbia. Di balik lembaran daun sagu yang tampak sederhana, ada harapan Aji untuk terus mengembangkan usahanya.
Ia bermimpi memperbesar produksi dan memperluas pasar, tetapi langkah itu masih terbentur keterbatasan modal. Hingga kini, usaha Aji belum pernah mendapatkan perhatian maupun bantuan dari pemerintah daerah.
Padahal, ia berharap ada dukungan permodalan agar usahanya bisa berkembang dan semakin banyak warga yang mendapat manfaat. “Saya ingin usaha ini lebih besar, tetapi kendalanya masih modal. Saya berharap ada bantuan dari pemerintah supaya usaha ini bisa berkembang,” ucap Aji.
Kini, jejak Aji mulai diikuti sejumlah tetangga yang turut mencoba peruntungan sebagai pengusaha atap rumbia. Dari rumah sederhana di Kampung Pasir Eurih, usaha yang awalnya lahir dari keberanian melihat peluang itu perlahan menjadi sumber penghidupan sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....