Sedekah Air Penghantar Doa Jemaah Haji Pandeglang
- 04 Jun 2026 14:48 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Pandeglang - Deretan wadah air minum dan nampan makanan ringan kini menghiasi sejumlah pelataran rumah warga di sepanjang jalur utama Kabupaten Pandeglang. Kehadiran sarana pelepas dahaga gratis tersebut menjadi penanda visual keberangkatan warga setempat menuju Tanah Suci musim haji tahun ini.
Tradisi kultural ini secara konsisten dirawat pihak keluarga sebagai bentuk syukur sekaligus media interaksi sosial kemanusiaan. Anak dari seorang jemaah haji asal Kelurahan Saruni, Kecamatan Majasari, Ahmad Nofandi Harist, menjelaskan keluarganya sengaja menyiapkan fasilitas konsumsi gratis, tepat sejak hari pertama keberangkatan orang tuanya.
Sajian diletakkan pada dua titik strategis, yakni area halaman depan rumah serta tepi jalan raya yang ramai dilalui pelintas. "Kita menyediakan air untuk siapapun yang mau minum. Kita menyediakan dua tempat di depan rumah sama di pinggir jalan, sejak keberangkatan orang tua hari pertama," ujar Ahmad, Kamis 4 Juni 2026.
Pengisian ulang pasokan logistik di pinggir jalan dilakukannya setiap waktu agar tidak mengalami kekosongan. Selain air minum, setiap pagi Ahmad menyiapkan makanan ringan dan buah-buahan di siang dan juga sore hari untuk para pejalan yang memerlukan.
Salah seorang warga yang melintas, Romy Ramadany, mengaku sangat terbantu oleh keberadaan posko sedekah air minum dan makanan gratis di jalur perjalanannya menuju Alun-Alun. Pengalaman mencicipi hidangan di tepi jalan dirasakannya sangat membantu bagi kaum musafir sepertinya.
"Setiap ada yang mau haji, keluarganya menyiapkan air minum maupun makanan. Ya, terbantu banget sih, soalnya kalau sudah dari perjalanan jauh kita bisa mampir," kata Romy Ramadany.
Keberadaan tradisi ini dinilainya efektif meringankan beban fisik para pengguna jalan yang didera rasa haus. Pasokan menu makanan berupa kue dan buah-buahan segar dirasanya dapat menganjal perut sesaat dalam perjalanan yang melelahkan.
Budayawan Banten, Rohendi, memaparkan kebiasaan menyediakan konsumsi di teras rumah merupakan bagian dari akar jati diri masyarakat suku Sunda yang mendiami wilayah Banten sejak era sebelum kesultanan. Nilai-nilai lokal ini kemudian mengalami proses sinkretisme yang kuat dengan ajaran Islam karena muatannya mengandung unsur sedekah dan bantu-membantu (silih asah, silih asih, silih asuh).
"Tradisi menyiapkan minuman di koridor atau pinggir jalan ini untuk mendoakan jemaah di sana agar terasa adem. Islam kemudian sinkretis dengan budaya Sunda, menunjukkan nilai silih asah, silih asih, silih asuh yang menjadi berkah," ucap Rohendi.
Menurutnya ada keyakinan di tengah masyarakat yang meyakini keberkahan dari doa orang yang meminum air tersebut akan memberikan kesejukan bagi jemaah haji yang sedang menghadapi cuaca panas di Arab Saudi. Eksistensi tradisi berbasis kearifan lokal ini dinilainya berdampak baik dan perlu tetap dijaga di tengah tantangan arus modernisasi.
Pola akulturasi yang positif dari keramahan dalam menawarkan hidangan kepada para pelintas jalan disebutnya mencerminkan tingginya nilai keluhuran budi pekerti masyarakat religius yang membuat ritual keagamaan di tingkat daerah bertransformasi menjadi kebudayaan yang dinamis dan dirindukan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....