Menembus Batas Usia Tuk Menjemput Panggilannya
- 10 Mei 2026 17:19 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Pandeglang - Takdir keberangkatan haji tahun 2026 di Kabupaten Pandeglang mempertemukan dua generasi dengan selisih usia hampir satu abad dalam satu rombongan yang sama. Syifa Khaerunnisa, gadis belia berusia 18 tahun, berdiri di antara barisan jemaah sebagai sosok paling muda, sementara Sanusi Astaja yang telah menginjak usia 102 tahun menjadi jemaah tertua.
Keduanya menjadi bukti nyata panggilan menuju Tanah Suci tidak mengenal batasan usia, melainkan perihal kesiapan hati dan kesempatan yang telah digariskan. Syifa Khaerunnisa merupakan seorang santriwati dari Pondok Pesantren Darussalam Kalinangka yang berasal dari Kampung Kadu Parasi, Desa Margasana, Kecamatan Pagelaran.
Langkah kakinya menuju baitullah di usia remaja menyimpan getaran emosi yang mendalam, perpaduan antara rasa senang, sedih, dan terharu. Ia sempat merahasiakan rencana keberangkatan ini dari teman-teman sebayanya hingga kabar tersebut akhirnya diketahui dengan sendirinya oleh lingkungan sekitar.
"Perasaannya senang, sedih, terharu juga. Semoga semuanya, keluarga, teman-teman Sifa, guru-guru bisa cepat nyusul ke sana juga, pokoknya sehat terus semua," ucap Syifa, Minggu 10 Mei 2026.
Ia bercerita persiapannya dalam melaksanakan perjalanan suci ini dilakukan Syifa segera setelah namanya muncul dalam manifest daftar jemaah haji yang dikeluarkan oleh kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kabupaten Pandeglang. Ia mulai mengikuti rangkaian kegiatan manasik haji di Yayasan Al-Falah guna membekali diri dengan tata cara ibadah yang benar sejak dini.
Meski sempat merasa gugup untuk menghadapi perjalanan jauh di usia muda, ia tetap membulatkan tekad untuk menjalankan rukun Islam kelima ini dengan penuh kesungguhan. Keberangkatan Syifa tahun ini membawa sebuah cerita haru tentang pengabdian dan penggantian kursi yang ditinggalkan oleh sang ibu. Ayah Syifa, Ahmad Matin, menceritakan awalnya rencana ibadah haji ini dirancang bersama istrinya yang telah mendaftar sejak lama.
Namun, sang istri jatuh sakit dan meninggal dunia pada tahun 2021, sehingga proses pelimpahan porsi haji kemudian diurus agar dapat digantikan oleh putrinya. "Awalnya mau berangkat sama ibunya, tapi meninggal dunia tahun 2021 dan digantikan oleh anak saya. Saya rasa senang bisa melaksanakan ibadah haji bersama anak," ujar Ahmad Matin.
Ahmad Matin mengaku sangat bahagia bisa menunaikan ibadah haji bersama anaknya meskipun niat awal tidak sesuai dengan rencana semula. Ia merasa kehadiran putri tersayang di sampingnya akan mempermudah pelaksanaan ibadah fisik selama di Mekkah maupun Madinah.
Baginya, melihat sang putri berangkat di usia muda adalah sebuah karunia besar yang patut disyukurinya di tengah duka kehilangan pasangan hidup. Di sisi lain barisan, hadir sosok Sanusi Astaja yang menjadi simbol keteguhan dalam menanti panggilan Tuhan selama berpuluh-puluh tahun.
Warga Kampung Pagembrongan, Kelurahan Setrajaya, Kecamatan Pandeglang ini telah telah berpuluh puluh tahun menunggu dan baru mendapatkan kesempatan berangkat saat usianya menyentuh angka 102 tahun. Raut wajahnya tampak tenang tanpa beban, seolah usia senja bukan penghalang baginya untuk menempuh perjalanan ribuan kilometer.
"Senang, Alhamdulillah. Perasaan biasa aja, tidak seperti apa-apa," kata Sanusi menanggapi keberangkatannya di usia 102 tahun.
Sanusi mengaku tidak merasakan kegelisahan berlebih meskipun menyandang status sebagai jemaah tertua dalam kloter 13 tahun ini. Baginya, bisa menginjakkan kaki di tanah suci adalah sebuah anugerah alhamdulillah yang ia terima dengan perasaan senang dan syukur mendalam.
Semangat fisiknya tetap terjaga dalam rombongan jemaah reguler yang dilepas secara resmi pada 9 Mei 2026 di Pendopo Pandeglang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....