Nana Setia Berjualan Takjil Demi Keluarga

  • 25 Feb 2026 21:02 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Lebak - Ramadan selalu menjadi bulan penuh berkah bagi mereka yang mau berusaha dan tetap istiqomah di jalan Allah. Bagi Nana (50), Ramadan bukan hanya tentang ibadah, tetapi juga tentang perjuangan mencari nafkah demi keluarga tercinta.

Selama 20 tahun terakhir, warga Jakarta ini setia berjualan takjil setiap bulan suci. Lokasinya tak pernah berubah, yakni di Jalan Multatuli, Rangkasbitung, Kabupaten Lebak. Lapak sederhananya menjadi saksi ketekunan dan semangatnya dari tahun ke tahun.

Beragam jenis takjil dijajakan Nana. Mulai dari kolak, es buah, gorengan, hingga aneka kue basah tersusun rapi di atas meja dagangannya. Sebagian merupakan titipan warga lain, sebagian lagi hasil olahan tangannya sendiri.

Setiap hari, Nana mulai berjualan pukul 14.00 WIB hingga azan Magrib berkumandang. Menjelang waktu berbuka, pembeli biasanya memadati lapaknya untuk mencari hidangan pembatal puasa. Jarak dari Jakarta ke Rangkasbitung yang cukup jauh tak pernah menjadi hambatan baginya.

Demi fokus berjualan, setiap Ramadan ia memilih mengontrak kamar sederhana di dekat lokasi berdagang. “Kalau pulang-pergi Jakarta–Rangkasbitung capek di jalan. Jadi tiap Ramadan saya ngontrak dekat sini supaya bisa lebih fokus jualan,” ujar Nana saat ditemui di sela-sela kesibukannya berjualan,Selasa ,24 Februari 2026.

Keputusan itu diambil bukan tanpa alasan. Hasil penjualan takjil selama Ramadan diakuinya cukup menjanjikan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. “Alhamdulillah, hasil jualan Ramadan lumayan. Bisa buat kebutuhan sehari-hari dan bantu sekolah anak,” ucapnya dengan senyum tipis.

Namun Ramadan tahun ini terasa berbeda. Baru sekitar dua pekan lalu, sang suami yang selama ini setia mendampingi dan membantunya berjualan berpulang ke rahmatullah. Biasanya, sang suami membantu menyiapkan dagangan hingga melayani pembeli.

Kini, Nana harus mengerjakan semuanya seorang diri, dari persiapan hingga beres-beres setelah berbuka. “Biasanya bapak yang bantu angkat-angkat dan layani pembeli. Sekarang harus kuat sendiri. Tapi saya yakin Allah kasih jalan,” katanya lirih.

Sebagai ibu dari dua anak, Nana sadar dirinya kini menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga. Kesedihan yang masih terasa tak membuatnya menyerah pada keadaan. Baginya, berdiam diri bukanlah pilihan.

Ia percaya kerja keras di bulan penuh berkah akan mendatangkan rezeki yang tak disangka-sangka. “Saya cuma berharap Ramadan tahun ini rezekinya lebih baik dari tahun kemarin. Anak-anak masih butuh biaya, jadi saya harus semangat,” ucapnya penuh harap.

Di tengah hiruk pikuk pembeli yang datang silih berganti, Nana tetap tersenyum melayani. Lapak takjil di Jalan Multatuli itu bukan sekadar tempat berdagang, melainkan simbol keteguhan hati seorang ibu yang berjuang demi masa depan anak-anaknya.

Rekomendasi Berita