Kisah Perantau Jawa Menjaga Vihara Sukhavati

  • 12 Feb 2026 18:00 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Serang - Suara air dalam ember terdengar pelan di sudut Vihara Sukhavati, Gang Mangga Dua Dalam, Kelurahan Kotabaru, Kecamatan Serang, Kota Serang. Pagi itu, seorang pria paruh baya sibuk merapikan perlengkapan di dekat bak khusus pencucian. Dialah yang sehari-hari menjaga kebersihan vihara itu. Sudah lima tahun ia mengabdikan diri di tempat ibadah tersebut.

Namanya Tutur, warga berdarah Jawa yang datang ke Serang tanpa membawa banyak bekal sejak usia belia, selain tekad untuk bertahan hidup. Ia merantau seorang diri. Orang tua tak lagi mendampinginya, sementara keluarga dekat yang tersisa hanya sepupu yang tinggal di Jawa. “Saya ke sini sendiri. Saudara paling sepupu di Jawa,” ujarnya pelan.

Sejak muda, ia terbiasa bekerja apa saja demi menyambung hidup. Seperti memasang pengeras suara di hajatan dan acara hiburan. “Dulu saya di sound. Pasang speaker, tarik kabel, ikut acara,” kata Tutur mengenang.

Honor yang diterima tak selalu cukup. Ia pernah merasakan sulitnya mencari pekerjaan tetap. Namun ia bertahan. Kota Serang menjadi tempatnya belajar berdiri di atas kaki sendiri.

Seiring waktu, pekerjaan di dunia hiburan mulai ia tinggalkan. Tenaga tak lagi sekuat dulu. Kesempatan datang ketika ia diminta membantu menjaga kebersihan di Vihara Sukhavati. Dari situlah hidupnya perlahan menemukan arah yang lebih tenang.

Rutinitasnya kini dimulai sejak pagi. Membuka gerbang, menyapu halaman, mengepel lantai, merapikan altar. Ia juga merawat patung-patung dengan cara khusus dengan istilah "Ganti Jubah". Air disiapkan di bak tersendiri, ditaburi bunga, lalu dibersihkan menggunakan sampo khusus. “Air dulu, kasih kembang, baru pakai sampo. Enggak boleh campur-campur alatnya,” ucapnya.

Saat Imlek dan Waisak, vihara menjadi ramai. Jemaat datang bersama keluarga. Bagi Tutur, momen itu menghadirkan suasana yang berbeda. “Adem rasanya. Ramai, tapi enak,” ucapnya.

Di tengah keramaian keluarga-keluarga yang berkumpul, ia tetap menjalani perannya dalam diam. Hidup sebatang kara di perantauan membuatnya terbiasa mengandalkan diri sendiri. Tak ada keluhan yang ia sampaikan.

Kini, di sudut Mangga Dua Dalam, ia menemukan tempat berpijak. Dari perjalanan panjang sebagai perantau yang berjuang sendirian di Kota Serang, Tutur menambatkan hidupnya di Vihara Sukhavati—menjaga kebersihan, merawat ketenangan, dan mengisi hari-harinya dengan kerja yang ia sebut sederhana namun membuatnya merasa berarti. “Nyaman di sini. Mau di sini saja,” kata dia.

Rekomendasi Berita