Revolusi Petani Milenial Pandeglang

  • 30 Jan 2026 17:24 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Pandeglang - Di sudut Kampung Curuggaru, Desa Kadugemblong, Kabupaten Pandeglang, seorang pemuda berdiri tegak di atas lahan seribu meter persegi. Bukan sekadar petani biasa, Muhammad Teguh Arrosid, ia merupakan representasi generasi baru yang memegang cangkul sekaligus gawai secara bersamaan. Baginya, bertani adalah soal menjaga napas masa depan agar tetap berdenyut.

Sosok yang dinobatkan sebagai Young Ambassador Agriculture 2023 oleh Kementerian Pertanian ini, membawa angin segar bagi dunia agraris Banten. Di saat banyak anak muda berpaling ke hiruk-pikuk kota, Teguh justru pulang ke tanah kelahiran untuk membuktikan bahwa kedaulatan pangan bisa diraih lewat sentuhan teknologi.

Ia mematahkan stigma bahwa sektor pertanian hanya milik generasi tua yang identik dengan lumpur dan kemiskinan.

"No farmer, no food, no life, no future," kata Teguh dengan sorot mata tajam yang memancarkan keyakinan penuh terhadap sektor agraris. Ia meyakini bahwa ketiadaan petani merupakan ancaman nyata bagi ketersediaan pangan serta keberlangsungan peradaban manusia.

Tanpa kehadiran sosok petani, kehidupan akan kehilangan sumber nutrisi utama yang menjadi fondasi masa depan bangsa. Pemuda inspiratif ini menekankan bahwa setiap butir hasil panen adalah penjaga nafas kehidupan yang harus terus diperjuangkan oleh generasi muda.

"Kami sebagai petani milenial, menanam itu tidak sekadar menanam, tapi menggunakan ilmu yang kami miliki. Kami menggunakan teknologi IOT, pemupukan dan penyiraman disesuaikan dengan kebutuhan hara tanah," ujarnya, Jumat 30 Januari 2026.

Lahan seluas 1.000 meter persegi miliknya menjadi laboratorium hidup bagi penerapan Internet of Things (IoT) dan Smart Farming. Teguh tidak lagi mengandalkan insting semata dalam memberi pupuk, melainkan berdasarkan data laboratorium yang terintegrasi dengan aplikasi ponsel. Ketelitian inilah yang membuatnya mampu melipatgandakan populasi tanaman hingga dua kali lipat dari standar konvensional.

Alhasil, produktivitasnya mampu menembus angka 1 ton per 1.000 meter persegi, jauh melampaui rata-rata produktivitas Provinsi Banten yang berada di kisaran 8,5 ton per hektare.

Teguh memandang sektor pertanian sebagai peluang bisnis menjanjikan, apalagi posisi Pandeglang sangat strategis sebagai penyokong pasar Jabodetabek. Harga cabai di tingkat petani yang menyentuh Rp50.000 per kilogram menjadi bukti nyata besarnya potensi ekonomi di sektor hortikultura ini.

Namun, profit finansial bukanlah satu-satunya motivasi utama bagi sosok petani milenial inspiratif tersebut. Baginya, bertani adalah bentuk tanggung jawab moral yang besar demi menjaga kedaulatan pangan dan kelangsungan hidup bangsa.

"Saya ingin masa depan itu tetap ada. Anak muda bukannya tidak ingin bertani, mereka hanya belum mengenal saja. Padahal, di mana ada kehidupan, di situ pertanian dibutuhkan," ucap Teguh.

Ia meyakini minat generasi muda terhadap sektor agraris sebenarnya sangat tinggi namun masih terhambat minimnya literasi. Akses informasi yang terbatas menjadi penghalang utama bagi pemuda untuk terjun langsung ke dunia pertanian modern.

Ia menilai ketersediaan pangan saat ini menjadi isu krusial yang harus dijawab melalui keterlibatan aktif para milenial. Momentum ini wajib dimanfaatkan untuk menganalisa berbagai peluang serta perubahan teknologi demi menjaga kedaulatan pangan masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....