Kopi Pahit Utun di Senja Alun-Alun
- 07 Jan 2026 11:06 WIB
- Banten
KBRN, Lebak: Senja perlahan turun di Alun-alun Rangkasbitung. Cahaya jingga menyelimuti ruang publik kebanggaan warga Lebak itu, sementara keramaian mulai memuncak. Anak-anak berlarian, sebagian warga berolahraga, dan tak sedikit yang sekadar berjalan santai menikmati sore.
Di tengah hiruk pikuk tersebut, pada sisi lain kawasan alun-alun, tampak seorang pria paruh baya duduk di pinggir trotoar. Di hadapannya hanya segelas kopi pahit dan sebuah gerobak sederhana yang menemaninya melepas lelah setelah seharian bekerja.
Pria itu bernama Utun, berusia 56 tahun. Dengan wajah tenang, ia menyeruput kopi perlahan, seolah tak terusik oleh riuh rendah di sekelilingnya. “Ngopi sebentar, Bu, biar badan agak enteng,” ujarnya pelan sambil tersenyum.
Utun telah menekuni pekerjaan sebagai tukang sampah selama kurang lebih 30 tahun. Setiap hari ia keluar rumah sejak pukul enam pagi, menyusuri perumahan di sekitar tempat tinggalnya untuk mengangkut sampah warga.
Pekerjaan itu baru ia akhiri saat matahari mulai tenggelam. Menjelang magrib, Utun kembali pulang dengan tubuh lelah, namun langkahnya tetap mantap. “Capek pasti ada, tapi sudah biasa,” katanya.
Bagi ayah tiga anak ini, lelah bukanlah keluhan. Ia mengaku menjalani pekerjaannya dengan penuh cinta demi keluarga. “Kalau kerja pakai hati, capeknya suka nggak kerasa,” katanya menuturkan Utun.
Selain mengangkut sampah, Utun juga mengumpulkan barang-barang bekas yang masih bisa dijual. Botol plastik, kardus, dan barang rongsokan lainnya ia sisihkan untuk menambah penghasilan harian.
Wajahnya berubah haru saat bercerita tentang kehidupan yang dijalaninya. Beberapa kali Utun mengusap air mata yang jatuh tanpa bisa ditahan. “Saya cuma pengen keluarga saya bisa makan dan bertahan,” ucapnya dengan suara bergetar.
Semangatnya bekerja kian kuat ketika mengingat sang istri tercinta yang sedang terbaring sakit di rumah. Ia bercerita, sudah enam bulan terakhir, istrinya divonis menderita kanker darah dan harus menjalani pengobatan rutin ke Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta.
“Kalau ingat istri di rumah, saya harus kuat. Dia masih butuh saya,” kata Utun lirih. Kondisi itu membuatnya tak punya pilihan selain terus bekerja, meski hidupnya berada di bawah garis kemiskinan.
Utun mengaku selama ini belum pernah menerima bantuan sosial dari pemerintah, selain kepesertaan BPJS Kesehatan. “Bantuan belum pernah dapat, Bu. Tapi saya tetap bersyukur masih ada BPJS buat berobat,” ujarnya.
Di bawah langit senja Alun-alun Rangkasbitung, Utun menatap masa depan dengan harapan sederhana. Ia berharap suatu hari kehidupan keluarganya akan lebih baik. “Mudah-mudahan ada jalan, hidup kami bisa berubah,” pungkasnya sambil kembali menyeruput kopi pahitnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....