Lapak Sayur yang Hidup di Tengah Sunyi Kota
- 18 Agt 2025 19:19 WIB
- Banten
KBRN, Serang : Di tengah suasana Kota yang hening dari biasanya, jalanan lengang, dan beberapa toko – toko memilih untuk tutup, namun sebuah lapak sayur sederhana terlihat sudah berdiri sejak pagi. Saat sebagian masyarakat masih sibuk di dalam dunia mimpinya, Bi Ijah (54) sudah sibuk menata sayuran segar yang ia bawa dari pasar induk.
Senin 18 Agustus 2025 ditetapkan sebagai hari cuti bersama oleh pemerintah, tetapi berbeda dengan Bi Ijah, sejak pukul 3 pagi ia sudah sibuk mencari nafkah, lapaknya tidak pernah kosong, bagi Bi Ijah kalender hanya kertas kosong yang penuh dengan angka. Tidak peduli merah atau tidak, ia tetap harus bekerja. “Dari rumah jam 3 ke pasar, jam 6 pagi itu udah mulai jualan sampai jam 12,” ujarnya.
Bi Ijah menghela nafasnya panjang, hari ini lapaknya jauh lebih sepi dari biasanya. Setumpuk sayur segar masih tertata di atas mejabelum tersentuh banyak pelanggan. Lapaknya yang biasanya ramai dengan tawar menawar hari ini sepi, hanya kehadiran segelintir pembeli. “Ya beda, kalau hari biasa pendapatan lumayan, kalau sepi gini ya kurang pembelinya,” katanya.
Bagi masyarakat mungkin cuti bersama jadi kesempatan bagi mereka bernafas lega, tapi bagi Bi Ijah, tiap hari di kalendernya berharga, tiap detik di harinya jadi peluang untuk memutar roda hidup keluarganya meski sedikit demi sedikit.
Tiap harinya ia bekerja sendiri, Bi Ijah mengatakan ia tidak mau mengambil waktu belajar anak – anaknya, ia bertekad akan membuat anak – anaknya duduk di bangku perguruan tinggi. Tak peduli jika harus banting tulang setiap harinya.
Mata Bi Ijah berkaca-kaca, suaranya bergetar ketika ia membahas alasannya berjalan sampai sejauh ini. “Buat anak sekolah, pokoknya harapan saya tuh selesai itu untuk anak, untuk masa depan anak sekolah,” ucapnya.
Hidupnya mencerminkan seorang ibu yang gigih. Di balik lapak sayur yang sederhana dengan sayuran segar yang tertata di meja kayu, terkuar aura cinta kasih seorang ibu pada anak – anaknya. Cinta yang membangunkan ia di fajar, mengorbankan waktu liburnya untuk keluarga.
Bi Ijah menyadari ia mungkin tak bisa mengubah banyak hal di masa kini, tetapi kerja kerasnya hari ini membuka jalan baru untuk anak – anaknya menuju masa depan.
Bagi orang – orang, cuti bersama menjadi jeda sejenak dari rutinitas harian, tapi bagi Bi Ijah tiap detik harinya pertaruhan yang melelahkan antara harapan dan realitas. Ia punya janji besar pada dirinya, bahwa anak – anaknya akan punya masa depan yang hebat. (Arrifah/ mg)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....