Kisah Munculnya Sate Bandeng yang Berawal dari Doa Malam

  • 08 Agt 2025 14:31 WIB
  •  Banten

KBRN, Serang: Di sebuah sudut Kota Serang, berdiri sebuah usaha sederhana yang dibangun dari niat tulus dan doa malam. Sate Bandeng Ibu Aliyah berdiri sejak 1989. Tak banyak yang tahu, bisnis yang kini terkenal hingga luar kota dan mancanegara itu bermula dari modal Rp5.000 dan keyakinan seorang ibu yang ingin bangkit dari keterpurukan setelah sang suami terkena PHK.

Dengan keyakinan, kerja keras, dan salat tahajud selama tujuh hari, lahirlah sebuah usaha kuliner yang kini menjadi ikon oleh-oleh khas Banten.

“Awalnya kan Bapak itu kan dulu kerja di KS, terus kan di PHK. Ibu punya anak empat, terus usaha apa gitu kan dulu pada kepikiran apa gitu, terus Ibu tuh salat tahajud selama tujuh hari. Pas tujuh harinya tuh dapat ilham jualan sate bandeng, dengan awal itu, biayanya itu Rp5.000,” ucap Ibu Aliyah.

Ide membuat sate bandeng muncul dari tradisi keluarga yang biasa membuat pepes bandeng saat acara Maulid Nabi.

“Dulunya itu nenek saya itu kalau ada Maulid Nabi itu bikin sate bandeng, cuma kalau dulu itu pakai pepes daun. Terus itu jualan pertama pakai pepes daun, terus keliling-keliling, door-to-door itu kalau ditawarin, orang-orang suka nanya itu apa. Jadi Ibu termotivasi pakai bambu supaya kelihatan bentuknya, kalau pepes itu kan tidak terlihat bentuk sate bandengnya,” ucapnya.

Usaha ini awalnya dijalankan dari rumah kecil yang kini sudah dijual, dengan perjuangan menjajakan sate bandeng ke berbagai wilayah. “Jualan door to door dari rumah ke rumah, dari kampung ke kampung, maksudnya dari Cilegon ke Balaraja, ke Tangerang, Jakarta gitu kan, ninting-ninting ranjang Ibu tuh. Alhamdulillah akhirnya bisa beli tempat sendiri walaupun kecil, dan bangunannya juga belum lama,” ucapnya.

Hingga kini, usaha ini memproduksi sekitar 60 kilogram bandeng per hari dengan melibatkan 10 karyawan yang seluruhnya adalah anggota keluarga. “Produksinya itu sekarang 60 kilo per hari, karyawan 10 orang tapi semuanya keluarga. Di samping untuk membantu Ibu juga, kitanya saling membantu, daripada nggak ada kerja, ya udah ngebantuin Ibu,” ucapnya.

Kualitas tetap jadi prioritas utama, dari pemilihan bahan hingga pengolahan yang masih dilakukan sendiri oleh Ibu Aliyah. “Bumbu Ibu yang nakar, yang adonin Ibu, nanti kalau karyawan datang baru saya tinggalin untuk ngerjain bagian lain. Bandengnya sekarang dari Kerawang, karena Pontang udah nggak ada,” ucapnya.

Harga satu tusuk sate bandeng saat ini mencapai Rp50.000, naik berkali lipat dari harga awal di tahun 1989. “Dulu pertama kali harga satu itu 900 rupiah. Sekarang udah 50 ribu satu. Dulu bawang masih murah, bandengnya juga masih murah, sekarang udah berlipat-lipat semuanya,” ucapnya.

Ibu Aliyah juga membantu memasarkan produk UMKM sekitar dengan menyeleksi produk rumahan yang layak jual. “Jadi produksi rumahan tapi sama Ibu juga, yang bagus-bagus diambil. Disuruh nyimpen dulu di sini, kalau cocok ya dilanjut. Saya bantu ibu-ibu sekitar juga, yang penting produknya layak dan enak,” ucapnya.

Meski pesaing semakin banyak dan kadang ada komentar miring, ia tetap fokus menjaga kualitas dan tidak merasa terganggu. “Sekarang sate bandeng seperti menjamur ya, saingan makin banyak. Tapi banyak yang nyicipin sana-sini, akhirnya baliknya ke Ibu lagi. Saya sih yang penting jaga kualitas, nggak usah julid, rezeki mah udah diatur sama Allah,” ucapnya.

Hasil dari usaha ini telah menyekolahkan empat anaknya hingga sarjana. “Iya, dari awal dari nol. Saya menyekolahkan anak empat dari bisnis ini. Yang dua bidan, yang dua sekretaris," ucapnya.

Salah satu pelanggan, Aah Sumiah, mengaku selalu membeli sate bandeng Ibu Aliyah setiap kali hendak mudik. “Kalau mau mudik, pasti belanjanya di sini. Rasanya enak, gurih, yang pedas apalagi, lebih enak lagi. Harganya termasuk terjangkau. Saya udah nyobain yang lain juga, tapi yang di sini yang paling cocok,” ucapnya

Dari dapur sederhana hingga jadi ikon oleh-oleh khas Serang, perjalanan usaha Ibu Aliyah tak hanya menyajikan rasa, tapi juga kisah ketekunan dan keberkahan. Di balik setiap sate bandeng yang dibungkus rapi, terselip doa, kerja keras, dan semangat keluarga yang tak pernah padam. (Faradhita/mg)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....