Festival Bubur Suro, Inspirasi Pelestarian Budaya di Pandeglang
- 06 Jul 2025 16:09 WIB
- Banten
KBRN, Pandeglang: Tradisi tahunan Bubur Suro kembali digelar oleh masyarakat Desa Bandung, Kecamatan Banjar, Kabupaten Pandeglang, Banten pada Minggu, 6 Juli 2025. Kegiatan budaya ini dilaksanakan bertepatan dengan 10 Muharam tahun kalender hijriah atau yang dikenal masyarakat sebagai hari Asyura.
Menurut Kepala Desa Bandung, Wahyu Kusnadiharja, Festival Bubur Suro ini adalah yang ketiga kalinya digelar. Dia menuturkan, kegiatan tahunan ini tidak hanya menjadi wujud syukur masyarakat, tetapi juga simbol pelestarian tradisi lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Baca juga: Festival Bubur Asyura Meriahkan Peringatan 10 Muharam
Festival ini digagas oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Satya Pakuan dan menjadi bagian dari Calendar of Event Desa Wisata Bandung. Adapun Bubur Suro tahun ini digelar dengan tema “Merawat Tradisi, Menyatu dalam Doa dan Budaya".
"Ini adalah salah satu bentuk mempertahankan tradisi budaya dibalut dengan doa tentunya dan harapan ke depan mudah-mudahan kegiatan ini masih tetap terjaga oleh masyarakat kami," ucapnya.
Bubur Suro merupakan hidangan khas berbahan dasar beras, santan, dan rempah yang disajikan dalam porsi besar, kemudian dibagikan secara gratis kepada masyarakat. Bubur ini memiliki makna spiritual yang kuat, dipercaya sebagai simbol keselamatan dan keberkahan.
/mx920n3rotto90o.jpeg)
Warga Desa Bandung, Kecamatan Banjar menikmati bubur suro. (RRI//Ridwan Maulana)
Dalam Festival Bubur Suro tahun ini diikuti 10 peserta dari setiap RT serta dua sekolah dasar, yakni SD Negeri Bandung 1 dan SD Negeri Bandung 2. Yang mana setiap peserta menyajikan bubur suro dengan ciri khas masing-masing di saung-saung yang mereka buat.
“Ada sepuluh saung tutup, terdiri dari peserta RT dan lembaga pendidikan. Harapannya, kegiatan ini bisa memperkuat doa bersama dan membawa keberkahan untuk masyarakat Desa Bandung," ujarnya.
Baca juga: Keutamaan Hari Asyura yang Diperingati Setiap 10 Muharam
Kegiatan ini pun mendapat tanggapan positif dari masyarakat. Salah seorang warga dari Kampung Lembur Kirai, Ani mengaku senang bisa ikut serta. Ia menjelaskan, bubur suro dibuat dengan berbagai variasi bahan, yang mencerminkan kekayaan budaya lokal mulai dari bubur polos, bubur dari kacang-kacangan, serta tambahan pandan hingga bunga.
“Bubur suro itu macam-macam. Ada yang dari kacang-kacangan, ada juga yang pakai daun pandan atau bunga, ada juga yang polos. Tergantung kreasi tiap kelompok," kata dia.
/925bt33mca6h8u7.jpeg)
Pertunjukan seni debus ikut memeriahkan kegiatan Festival Bubur Suro yang diadakan di Desa Bandung. (RRI/Ridwan Maulana)
Sementara Wakil Bupati Pandeglang, Iing Andri Supriadi, yang turut hadir dalam gelaran budaya itu berharap tradisi semacam ini dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Pandeglang. Sebab menurutnya, kegiatan Festival Bubur Suro adalah tradisi budaya yang dibalut dengan doa untuk melestarikan kearifan lokal.
“Kami merasa bangga dan bahagia. Mudah-mudahan tradisi ini terus ditradisikan, terus digelorakan, karena Bubur Suro ini bagian dari rasa syukur masyarakat Kabupaten Pandeglang, khususnya Desa Bandung," ucapnya.
Selain sajian bubur, kegiatan ini juga diramaikan dengan pertunjukan seni, pameran UMKM, kuliner khas Banten, doa bersama, dan pembagian bubur kepada masyarakat. Festival ini menjadi ruang kebersamaan dan refleksi spiritual bagi warga, sekaligus daya tarik wisata budaya. (Ridwan Maulana)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....