Dapur Umi Nabil Pertahankan Harga meski Bahan Pokok Naik

  • 21 Jul 2026 16:35 WIB
  •  Banten
Poin Utama
  • Dapur Umi Nabil memilih mempertahankan harga menu meskipun menghadapi kenaikan harga bahan pokok seperti ayam, cabai, dan timun.
  • Pemilik usaha Muhammad Ihsan Maulana menganggap menjaga kepercayaan pelanggan lebih penting dibandingkan menaikkan harga setiap kali biaya produksi meningkat.
  • Strategi penahan harga dilakukan sambil mencari berbagai cara untuk tetap menjaga kualitas makanan yang disajikan kepada pelanggan.

RRI.CO.ID, Serang – Fluktuasi harga bahan pokok menjadi tantangan yang hampir selalu dihadapi pelaku usaha kuliner. Namun, kondisi tersebut tidak membuat Dapur Umi Nabil di Kota Serang langsung menaikkan harga jual produknya. Pemilik usaha memilih mempertahankan harga menu agar tetap terjangkau bagi pelanggan, sembari mencari berbagai strategi untuk menjaga kualitas makanan yang disajikan.

Pemilik Dapur Umi Nabil, Muhammad Ihsan Maulana mengatakan, kenaikan harga ayam, cabai, timun maupun bahan pokok lainnya merupakan risiko yang harus dihadapi setiap pelaku usaha. Menurutnya, mempertahankan kepercayaan pelanggan jauh lebih penting dibandingkan menaikkan harga setiap kali biaya produksi meningkat.

Ia menjelaskan, selama ini pihaknya tetap mempertahankan harga satu porsi menu sebesar Rp15 ribu. Untuk menyesuaikan biaya produksi, Dapur Umi Nabil lebih memilih melakukan penyesuaian terhadap porsi pelengkap seperti sambal, sayuran, maupun lalapan tanpa mengurangi cita rasa makanan.

"Yang penting konsisten harga kita itu Rp15 ribu. Sebisa mungkin tidak mengikuti kenaikan bahan pokok. Kalau bahan naik, paling kita sesuaikan porsi sambalnya, sayurnya atau lalapannya," ujar Ihsan, Senin, 20 Juli 2026.

Sementara pemilik lainnya, Nur Aini mengatakan, setiap hari dirinya bersama sang suami selalu berbelanja langsung ke pasar untuk memastikan kualitas bahan baku yang digunakan tetap segar. Selain itu, mereka juga mencari alternatif bahan ketika harga salah satu komoditas mengalami lonjakan.

Misalnya ketika harga timun meningkat tajam, lalapan diganti dengan selada atau jenis sayuran lain yang kualitasnya tetap baik namun memiliki harga lebih stabil. Begitu pula saat harga cabai naik, komposisi sambal disesuaikan dengan menambah tomat tanpa menghilangkan cita rasa khas yang menjadi ciri Dapur Umi Nabil.

"Kalau timun mahal, kita cari lalapan lain. Yang penting pelanggan tetap mendapatkan lalapan. Begitu juga cabai, kalau mahal kita atur komposisinya supaya rasa tetap enak," kata Nur Aini.

Menurut pasangan tersebut, menjaga kualitas produk merupakan investasi jangka panjang bagi sebuah usaha kuliner. Kepercayaan pelanggan dibangun bukan hanya melalui rasa makanan, tetapi juga komitmen pelaku usaha dalam memberikan pelayanan terbaik meski menghadapi tantangan kenaikan harga bahan baku.

Strategi tersebut terbukti membuat Dapur Umi Nabil tetap memperoleh pelanggan setia dan mampu mempertahankan usahanya di tengah kondisi harga pangan yang terus berfluktuasi. Bagi keduanya, kepuasan pelanggan menjadi modal utama agar usaha dapat terus berkembang dan bertahan dalam jangka panjang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....