Masyarakat Pagerbatu Pandeglang Pertahankan Tradisi Anyaman Bambu

  • 22 Nov 2025 15:55 WIB
  •  Banten

KBRN, Pandeglang: Warga Kampung Pasir Angin di Kelurahan Pagerbatu, Kecamatan Majasari, Pandeglang, tetap kokoh menjadi salah satu sentra kerajinan anyaman bambu yang bertahan di tengah gempuran produk modern dan laju globalisasi. Kerajinan ini bukan sekadar mata pencaharian, melainkan warisan turun-temurun yang telah dihidupi sejak generasi nenek moyang.

Keterampilan menganyam bahkan menjadi keahlian yang dikuasai hampir seluruh ibu-ibu di kampung tersebut, sejak kecil anak-anak sudah diajarkan menganyam oleh orang tua mereka.

Baca juga: Tiga Dekade, Kerajinan Rotan Asal Pandeglang Tetap Diminati

Salah seorang pengrajin, Eneng Jaojah mengatakan, setiap wanita di kampungnya mampu menganyam untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Setelah selesai, para pengrajin umumnya menyerahkan hasil anyaman kepada agen lokal.

Kemudian agen ini menyalurkannya ke tengkulak atau pasar-pasar tradisional di berbagai wilayah, mulai dari Pandeglang, Labuan, Menes, Serang, hingga Ciomas. Produk yang dihasilkan memiliki harga jual yang bervariasi, berkisar antara Rp5.000 hingga Rp35.000, tergantung ukuran, jenis bambu yang digunakan, dan biaya pengiriman.

“Ini orderannya enggak pernah berhenti. Satu orang bisa menghasilkan sepuluh sampai dua puluh anyaman per hari,” ujarnya, Sabtu (22/11/2025).

Baca juga: Kerajinan Limbah Kayu Asal Serang Diminati Hingga Timur Tengah

Menurutnya Pasir Angin memiliki ciri khas anyaman yang unik, terutama terlihat pada bentuk produk dan penggunaan karung sebagai lapisan tambahan anyaman. Produk-produk andalan, seperti kalo karung yang biasa digunakan untuk nasi dan berbagai jenis wadah bambu lainnya, disebutnya tidak pernah sepi peminat.

Meskipun masih mengandalkan pemasaran konvensional yang secara geografis hanya menjangkau wilayah Banten, menurut Eneng para pengrajin di kampungnya mampu menghasilkan pendapatan harian sekitar Rp50.000 per orang dari hasil menganyam.

Namun, keberlangsungan produksi kerajinan ini tak lepas dari tantangan, Menurut Eneng permasalahan bahan baku menjadi hambatan utama yang kerap menghambat produksi. Ketersediaan bambu jenis apus, yang merupakan material utama anyaman, tidak selalu stabil. Keterlambatan pasokan dari pedagang pemasok bahkan memaksa beberapa pengrajin menunda produksi atau beralih sementara ke jenis anyaman lain.

Baca juga: Mengenal Kerajinan Macrame, Kreativitas Modern dari Benang

Selain masalah pasokan, fluktuasi hasil pertanian juga turut memengaruhi pendapatan pengrajin. Eneng menyebutkan bahwa saat musim panen padi tiba, penjualan produk anyaman dapat meningkat drastis karena tingginya kebutuhan akan tampah dan berbagai wadah penyimpanan. Sebaliknya, saat periode paceklik atau cuaca ekstrem, penjualan dapat menurun tajam, memberikan dampak signifikan pada penghasilan harian mereka.

“Kalau lagi paceklik, anjaman kurang laku. Tapi kalau panen, pesat sekali jualannya,” ucapnya. (Ridwan Maulana)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....