Sebanyak 60 Desa jadi Pemasok Ikan untuk MBG di Lebak

  • 27 Jul 2026 05:40 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Lebak - Pemerintah Kabupaten Lebak terus mengoptimalkan sektor perikanan sebagai salah satu penopang program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sebanyak 60 desa pembudi daya ikan akan memasok ikan air tawar jenis lele dan nila untuk kebutuhan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Program tersebut dikembangkan melalui sistem teknologi Recirculating Aquaculture System (RAS) yang dinilai mampu meningkatkan produktivitas budidaya ikan secara berkelanjutan. Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Lebak, Winda Triana, mengatakan pemerintah daerah telah melakukan pembinaan dan bimbingan teknis kepada para pembudi daya agar mampu memenuhi kebutuhan pasokan ikan untuk SPPG.

Program tematik RAS menjadi salah satu langkah strategis dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. "Kami terus mengoptimalkan pembinaan dan bimbingan teknis agar para pembudi daya ikan melalui program tematik RAS mampu memenuhi kebutuhan ikan untuk dapur SPPG maupun program Makan Bergizi Gratis," kata Winda Triana di Lebak, Sabtu, 25 Juli 2026.

Setiap desa mengembangkan budidaya ikan dengan mengelola sebanyak 20 kolam. Dari jumlah tersebut, setiap desa ditargetkan mampu menghasilkan panen hingga 10 ton ikan setiap musim panen. Apabila harga ikan mencapai Rp20 ribu per kilogram, maka hasil panen tersebut memiliki nilai ekonomi sekitar Rp200 juta dalam satu kali panen.

Produksi ikan dari desa-desa tersebut nantinya tidak dipasarkan secara langsung oleh pembudi daya. Seluruh hasil panen akan dikelola melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Selanjutnya, koperasi akan menyalurkan pasokan ikan ke sejumlah dapur SPPG yang melayani program MBG.

Keterlibatan koperasi diharapkan mampu menciptakan tata niaga yang lebih terstruktur dan memberikan kepastian pasar bagi para pembudi daya. Selain meningkatkan pendapatan masyarakat, program tersebut juga mendukung pemenuhan kebutuhan protein bagi para penerima manfaat MBG.

Lele dan nila dipilih karena memiliki kandungan protein yang tinggi, kaya asam lemak omega-3, serta berbagai zat gizi penting lainnya. Konsumsi ikan secara rutin dinilai mampu mendukung pertumbuhan dan meningkatkan kecerdasan anak.

"Ikan memiliki kandungan protein yang tinggi, kaya omega-3, serta gizi yang sangat dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan dan meningkatkan kecerdasan. Karena itu kami berharap pasokan ikan dari pembudi daya dapat mendukung keberhasilan program MBG," ujarnya.

Winda menambahkan, sistem budidaya RAS memiliki banyak keunggulan dibandingkan metode budidaya konvensional. Teknologi tersebut menerapkan sistem resirkulasi air sehingga penggunaan air menjadi jauh lebih efisien.

Air yang digunakan akan terus disaring dan dimanfaatkan kembali melalui proses pengolahan. Dalam penerapannya, teknologi RAS dilengkapi filter fisika dan biologi, sinar ultraviolet, serta oksigen generator.

Peralatan tersebut mampu mengontrol sekaligus menjaga kestabilan kualitas lingkungan budidaya ikan. Dengan kondisi lingkungan yang lebih stabil, tingkat kelangsungan hidup ikan menjadi lebih tinggi dan risiko kematian dapat ditekan.

"Kami meyakini usaha budidaya ikan air tawar melalui sistem teknologi RAS dipastikan dapat meningkatkan ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah," kata Winda.

Diharapkan, pengembangan 60 desa pembudi daya ikan tersebut menjadi model pemberdayaan ekonomi masyarakat yang mampu menyediakan pasokan pangan bergizi secara berkelanjutan untuk mendukung keberhasilan program Makan Bergizi Gratis di Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....