Pemkab Lebak Dorong Budidaya Ikan Bioflok Desa

  • 05 Jun 2026 18:25 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Lebak - Pemerintah Kabupaten Lebak, terus mendorong masyarakat mengembangkan usaha budidaya ikan dengan sistem bioflok di tingkat desa guna meningkatkan produksi perikanan, memperkuat ketahanan pangan, serta mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat. Program budidaya ikan bioflok dinilai memiliki prospek yang menjanjikan karena mampu menghasilkan produksi ikan dalam jumlah besar dengan penggunaan lahan yang relatif terbatas.

Sistem budidaya tersebut juga dinilai lebih efisien dalam penggunaan air sehingga cocok diterapkan di berbagai wilayah pedesaan. Kepala Bidang Pengelolaan Perikanan Budidaya Dinas Perikanan Kabupaten Lebak, Deni Iskandar, mengatakan pengembangan budidaya ikan bioflok dapat disinergikan dengan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Menurutnya, sinergi tersebut diharapkan mampu mendukung pemenuhan kebutuhan protein hewani dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah dijalankan pemerintah. “Budidaya bioflok memiliki potensi besar untuk memenuhi kebutuhan bahan pangan dalam Program Makan Bergizi Gratis sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat,” kata Deni Iskandar, di Rangkasbitung, Jum'at, 5 Juni 2026.

Ia menjelaskan, sistem bioflok memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan metode budidaya konvensional yang selama ini banyak diterapkan masyarakat. Keunggulan tersebut antara lain efisiensi penggunaan lahan, penghematan air, serta kemampuan meningkatkan produktivitas hasil budidaya.

Dengan teknologi bioflok, petani ikan dapat memanfaatkan lahan sempit untuk menghasilkan produksi yang lebih optimal. Deni mengatakan, budidaya ikan bioflok menggunakan kolam terpal berbentuk bundar yang dirancang khusus untuk mendukung pertumbuhan ikan secara maksimal.

Sistem tersebut juga dipadukan dengan penggunaan probiotik yang berfungsi menjaga kualitas air sekaligus mempercepat pertumbuhan ikan. Menurut dia, teknologi bioflok memungkinkan ikan memperoleh nutrisi tambahan dari mikroorganisme yang tumbuh di dalam kolam.

Dengan demikian, biaya pakan dapat ditekan sehingga usaha budidaya menjadi lebih efisien dan menguntungkan. Deni menjelaskan, kolam bioflok berukuran sekitar tiga meter persegi dapat digunakan untuk menebar hingga 3.000 benih ikan lele.

Dalam kondisi normal, ikan lele yang dibudidayakan melalui sistem tersebut dapat dipanen dalam waktu sekitar tiga bulan. Untuk komoditas ikan nila, masa panen berkisar empat bulan setelah proses penebaran benih dilakukan.

“Dengan sistem bioflok, produktivitas budidaya dapat meningkat karena pemanfaatan ruang dan kualitas air lebih terjaga,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengembangan budidaya ikan sistem bioflok merupakan bagian dari program yang digagas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Program tersebut diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus mendukung ketersediaan bahan baku untuk Program Makan Bergizi Gratis.

Pemerintah berharap kebutuhan protein hewani masyarakat dapat terpenuhi melalui peningkatan produksi perikanan budidaya di berbagai daerah. Karena itu, Dinas Perikanan Kabupaten Lebak terus mengajak masyarakat desa untuk memanfaatkan peluang usaha budidaya ikan bioflok.

Selain memberikan keuntungan ekonomi, usaha tersebut juga dinilai mampu menciptakan kemandirian pangan di tingkat desa. “Kami berharap budidaya ikan sistem bioflok dapat tumbuh dan berkembang di berbagai desa sehingga memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat,” kata Deni.

Menurutnya, semakin banyak masyarakat yang terlibat dalam usaha perikanan budidaya, maka semakin besar pula kontribusinya terhadap peningkatan kesejahteraan warga. Program tersebut juga diharapkan mampu menciptakan peluang usaha baru yang produktif dan berkelanjutan bagi masyarakat pedesaan.

Selain membuka lapangan kerja, pengembangan budidaya ikan bioflok diyakini dapat memperkuat perekonomian desa sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional dalam jangka panjang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....