Workshop Emping Lebak Tingkatkan Ekonomi Perempuan

  • 27 Feb 2026 21:18 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Lebak - Yayasan Indonesia Setara (YIS) berkolaborasi dengan Gebrakan anak Negeri (GAN) (GAN) membuka peluang kerja berbasis ekonomi masyarakat melalui Workshop Kuliner Olahan Emping Melinjo. Kegiatan ini digelar di Saung Ibu Nani, Kampung Parungsari, Sindangsari, Kabupaten Lebak, Jumat 27 Februari 2026.

Workshop bertajuk “Olahan Emping Melinjo – Brownies Topping Emping dan Emping Caramel” tersebut diikuti sebanyak 50 ibu rumah tangga. Kegiatan ini bertujuan membekali peserta dengan keterampilan baru agar mampu mengembangkan usaha kuliner berbasis bahan lokal.

Founder Yayasan Indonesia Setara, Sandiaga Uno , mengatakan lembaganya telah berdiri lebih dari satu dekade dengan fokus pada pemberdayaan difabel, anak muda, serta perempuan melalui program pelatihan keterampilan. “Melalui program Perempuan Berdaya di berbagai daerah, kami mengajarkan keterampilan tata boga seperti pelatihan olahan emping hari ini agar para ibu memiliki peluang usaha dan meningkatkan kemandirian ekonomi,” ujar Sandiaga dalam keterangan tertulis.

Menurutnya, emping melinjo dipilih karena merupakan produk lokal yang mudah ditemukan serta memiliki potensi nilai tambah jika diolah secara kreatif. Dengan inovasi produk, emping tidak hanya dijual dalam bentuk mentah, tetapi bisa menjadi sajian modern bernilai jual tinggi. Dalam workshop tersebut, peserta dilatih membuat berbagai produk seperti brownies topping emping, emping cokelat, dan emping karamel.

Menu tersebut dinilai cocok dikembangkan sebagai usaha rumahan karena bahan bakunya terjangkau. Selain pelatihan teknik memasak, peserta juga mendapatkan materi pemasaran digital.

Mereka diajarkan membuat desain flyer promosi menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung strategi penjualan produk. Tak hanya itu, para peserta juga dilatih membangun jejaring usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar produk yang dihasilkan dapat menjangkau pasar lebih luas.

Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing produk lokal. Menariknya, peserta langsung ditantang membuka pre-order pada hari pelatihan berlangsung.

Hasilnya, tercatat 29 pesanan brownies topping emping, 55 bungkus emping cokelat, dan 30 bungkus emping karamel berhasil dibukukan. Harga jual produk pun bervariasi, mulai dari Rp35.000 untuk emping karamel, Rp40.000 untuk emping cokelat, hingga Rp50.000 sampai Rp60.000 untuk brownies topping emping.

Dari penjualan tersebut, total pendapatan yang berhasil diraih peserta mencapai sekitar Rp4,88 juta. Sandiaga menilai capaian tersebut menjadi bukti potensi usaha berbasis lokal sangat menjanjikan jika dikelola dengan pendekatan inovatif.

“Ini membuktikan bahwa dengan kreativitas dan pendampingan yang tepat, ibu-ibu mampu menghasilkan produk bernilai ekonomi tinggi dalam waktu singkat,” katanya.

Melalui kolaborasi ini, diharapkan para ibu rumah tangga di Kabupaten Lebak mampu mengembangkan usaha kuliner berbasis potensi lokal. Dengan terciptanya sumber pendapatan baru, program ini diharapkan dapat memperkuat kemandirian ekonomi keluarga dan mendorong pertumbuhan UMKM daerah.

Program ini tidak berhenti pada pelatihan tatap muka. Setelah kegiatan selesai, peserta akan mendapatkan pendampingan intensif selama tiga minggu hingga satu bulan ke depan.

Pada tahap pendampingan, peserta dapat berdiskusi langsung dengan pelatih, mempraktikkan pembuatan konten promosi, serta mengoptimalkan strategi pemasaran digital. Mereka juga didorong untuk terus mengembangkan variasi produk agar semakin kompetitif di pasar.

Melalui kolaborasi ini, diharapkan para ibu rumah tangga di Kabupaten Lebak mampu mengembangkan usaha kuliner berbasis potensi lokal.

Salah seorang peserta, Rina (35), mengaku senang bisa mengikuti pelatihan tersebut karena mendapatkan ilmu baru yang sebelumnya belum pernah dipelajari. “Biasanya emping hanya digoreng atau dijual mentah. Sekarang saya tahu bisa diolah jadi brownies dan emping cokelat yang lebih menarik dan mahal harganya,” ujarnya.

Ia juga mengaku termotivasi setelah berhasil mendapatkan pesanan pada hari pelatihan. “Alhamdulillah tadi sudah ada yang pesan. Ini membuat saya lebih percaya diri untuk mulai usaha dari rumah,” katanya.

Dengan terciptanya sumber pendapatan baru, program ini diharapkan dapat memperkuat kemandirian ekonomi keluarga dan mendorong pertumbuhan UMKM daerah. Program ini tidak berhenti pada pelatihan tatap muka.

Peserta akan mendapatkan pendampingan intensif selama tiga minggu hingga satu bulan ke depan agar mampu mengoptimalkan promosi digital dan memperluas pasar.

Rekomendasi Berita