Harga Kakao di Lebak Anjlok, Petani Tunda Penjualan

  • 22 Feb 2026 20:30 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Lebak - Para petani kakao di Kabupaten Lebak terpaksa menunda penjualan hasil panen mereka akibat harga di pasaran yang anjlok tajam. Harga kakao yang sebelumnya berada di kisaran Rp45.000 per kilogram (kg) kini turun menjadi Rp20.000 per kg di tingkat pengepul.

Salah seorang petani kakao di Kecamatan Warunggunung, Didi, mengatakan saat ini para petani memilih bertahan dan tidak menjual hasil panennya. Penurunan harga dinilai terlalu drastis dan merugikan petani. “Kami sementara ini memilih tidak menjual kakao karena harganya sedang anjlok. Dari Rp45.000 sekarang tinggal Rp20.000 per kilogram,” ujar Didi di Warunggunung, Minggu 22 Februari 2026.

Menurutnya, anjloknya harga kakao sudah terjadi dalam beberapa hari terakhir. Penurunan tersebut terjadi di tingkat pengepul yang menjadi tempat utama petani menjual hasil panen mereka. “Turunnya sudah beberapa hari ini di pengepul. Jadi kami lebih baik simpan dulu daripada rugi,” katanya.

Didi menjelaskan, sebelumnya harga kakao sempat berada pada kondisi yang sangat menguntungkan. Bahkan pada 2024 lalu, harga kakao pernah menembus Rp135.000 per kg. “Waktu 2024 harga sempat sampai Rp135.000 per kilo. Sekarang turun jauh sekali, tentu terasa sekali bagi kami,” ucapnya.

Saat ini, Didi mengaku masih menyimpan sekitar 500 kg biji kakao kering di rumahnya. Ia berharap harga kembali membaik dalam waktu dekat sehingga bisa menjual dengan nilai yang lebih layak. “Saya punya sekitar 500 kilo. Untuk sementara disimpan dulu sambil menunggu harga naik lagi,” ujarnya.

Hal serupa juga disampaikan Ujang, petani kakao lainnya di Kabupaten Lebak. Ia mengaku memiliki sekitar 250 kg kakao, namun belum berani menjual karena harga di tingkat pengepul terus melemah. “Saya juga punya sekitar 250 kilo, tapi belum dijual. Harga di pengepul turun terus, jadi kami tahan dulu,” kata Ujang.

Menurut Ujang, penurunan harga kakao kali ini dipengaruhi oleh musim panen di sejumlah daerah sentra penghasil cokelat. Melimpahnya pasokan di pasaran membuat harga ikut tertekan.

“Sekarang ini kan lagi musim panen di beberapa daerah, jadi pasokan banyak dan harga turun,” katanya.

Bambang, seorang pengepul hasil bumi di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, membenarkan adanya penurunan harga kakao dalam beberapa hari terakhir. Ia mengatakan tetap menampung kakao dari petani, meski jumlahnya relatif kecil.

Dengan kondisi harga yang belum stabil, para petani berharap ada perbaikan pasar dalam waktu dekat agar hasil panen mereka dapat dijual dengan harga yang lebih menguntungkan dan mampu menopang kebutuhan ekonomi keluarga. “Kami masih menampung kakao kering dari Lebak, Serang, dan Pandeglang, tapi volumenya tidak banyak karena petani banyak yang menahan penjualan,” ujar Bambang.

Rekomendasi Berita