Harga Emas dan Makanan Jadi Pemicu Inflasi Banten

  • 05 Nov 2025 18:02 WIB
  •  Banten

KBRN, Serang: Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten mencatat bahwa kenaikan harga emas perhiasan dan bahan makanan menjadi faktor utama penyumbang inflasi di Provinsi Banten pada Oktober 2025. Inflasi tercatat sebesar 0,57 persen (month-to-month) dengan tingkat inflasi tahun kalender (year-to-date) mencapai 1,7 persen, masih dalam batas aman dibandingkan target nasional sebesar 2,5 persen ±1 persen.

Hal tersebut disampaikan oleh Bambang Wijanarko, Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Banten, Menurut Bambang, kenaikan harga emas perhiasan terjadi seiring dengan meningkatnya harga emas dunia, sementara kelompok bahan makanan seperti cabai, beras, dan bawang merah masih memberikan andil besar terhadap inflasi daerah.

“Kita melihat dua faktor dominan penyumbang inflasi Banten bulan ini, yakni kenaikan harga emas perhiasan dan bahan makanan. Pergerakan harga di dua kelompok ini cukup signifikan dan berdampak langsung pada pengeluaran rumah tangga,” ujar Bambang saat dialog bersama RRI, Rabu (5/11/2025).

Meski begitu, Bambang menegaskan bahwa kondisi inflasi di Banten masih terkendali berkat upaya koordinasi yang kuat antara berbagai instansi dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). TPID Banten secara rutin melakukan pemantauan terhadap 20 komoditas pangan strategis bersama dinas terkait, Bank Indonesia, serta Satgas Pangan dari Kepolisian.

“Kalau tidak dilakukan pengendalian lintas sektor, inflasi Banten bisa saja melampaui angka nasional. Karena itu, koordinasi antar OPD, BI, dan pihak keamanan sangat penting untuk menjaga ketersediaan dan distribusi bahan pokok,” ucapnya.

Bambang menambahkan, salah satu upaya yang kini dilakukan pemerintah daerah adalah memperkuat sekolah lapang pertanian di wilayah seperti Sawah Luhur. Program ini diharapkan mampu meningkatkan produksi komoditas pangan strategis, terutama cabai dan bawang merah, yang kerap menjadi pemicu utama inflasi di tingkat konsumen.

Selain itu, BPS juga menyoroti peran masyarakat dalam menjaga stabilitas harga. Menurut Bambang, perilaku belanja masyarakat yang panik atau spekulatif dapat memicu lonjakan harga di pasar.

“Ketika masyarakat membeli berlebihan, harga bisa naik karena seolah-olah terjadi peningkatan permintaan. Karena itu, penting bagi masyarakat untuk belanja secara bijak dan sesuai kebutuhan,” kata Bambang.

Bambang menekankan bahwa inflasi bukan sekadar angka statistik, melainkan cerminan keseimbangan antara daya beli, produktivitas, dan perilaku ekonomi masyarakat. Dengan menjaga konsumsi yang wajar dan mendukung produktivitas lokal, inflasi dapat tetap stabil tanpa menghambat pertumbuhan ekonomi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....