Drainase Tersumbat, Ribuan Hektare Sawah Terancam Gagal Panen
- 03 Mei 2026 21:08 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Serang — Permasalahan pengelolaan air masih menjadi kendala utama bagi sektor pertanian di Kabupaten Serang. Kondisi ini berdampak langsung pada produktivitas lahan sawah di sejumlah wilayah, termasuk area persawahan di Kecamatan Tirtayasa yang cukup luas.
Terutama saat musim hujan dan kemarau yang sama-sama menimbulkan persoalan berbeda. Akibatnya, hasil panen petani menjadi tidak maksimal. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Serang, Suhardjo, saat diwawancarai pada 3 Mei 2026, mengungkapkan persoalan utama terletak pada sistem pembuangan air yang tidak berjalan optimal.
Saat musim hujan, genangan air bisa bertahan hingga berbulan-bulan, termasuk di beberapa hamparan sawah di Tirtayasa. Hal ini menyebabkan tanaman padi sulit tumbuh dengan baik.
Sementara di musim kemarau, petani justru kesulitan mendapatkan pasokan air. “Permasalahan pertama itu pembuangannya terhambat, saat musim hujan air tergenang sampai berbulan-bulan sehingga hasil tanam padi tidak maksimal. Ada sekitar 1.421 hektare dari sembilan desa yang terdampak karena tidak adanya saluran pembuangan. Sebaliknya saat kemarau, suplai air dari Bendung Pamarayan tidak maksimal karena pintu air tidak bisa dibuka penuh. Jika dibuka maksimal justru berpotensi banjir karena adanya sampah dan tumbuhan yang menyumbat saluran,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut diperparah dengan adanya endapan lumpur, sampah, dan rumput liar di saluran irigasi. Hal ini menghambat aliran air baik saat pembuangan maupun distribusi, termasuk ke area persawahan di Tirtayasa yang bergantung pada aliran tersebut.
Selain itu, belum adanya tanggul yang memadai juga menjadi faktor risiko banjir. Akibatnya, distribusi air tidak merata ke seluruh wilayah pertanian.
Sebagai solusi, pihaknya mengusulkan pengerukan saluran serta pembersihan sampah secara menyeluruh. Selain itu, pembangunan tanggul sepanjang satu kilometer dengan tinggi satu meter di Desa Bolang dinilai penting.
Langkah ini diharapkan mampu mengendalikan aliran air saat pintu bendungan dibuka maksimal. Dengan begitu, air dapat mengalir hingga ke desa-desa yang selama ini kekurangan pasokan, termasuk wilayah Tirtayasa.
Suhardjo menyebutkan, jika pengairan berjalan optimal, petani dapat meningkatkan frekuensi tanam hingga tiga kali dalam setahun. Dengan produktivitas rata-rata lima ton per hektare, potensi hasil panen bisa meningkat signifikan.
Namun saat ini, banyak petani hanya menghasilkan sekitar dua ton per hektare, termasuk di sebagian lahan sawah di Tirtayasa. Kondisi tersebut membuat petani hanya mencapai titik impas tanpa keuntungan.
Ia juga menyoroti potensi kerugian yang ditimbulkan akibat permasalahan ini. Dengan luas lahan terdampak mencapai lebih dari 1.400 hektare, total kehilangan produksi bisa mencapai ribuan ton.
Jika dikalkulasikan dengan harga gabah saat ini, kerugian diperkirakan mencapai puluhan miliar rupiah. Oleh karena itu, penanganan segera dinilai sangat mendesak.
Pemerintah daerah terus berupaya mengusulkan program optimalisasi lahan melalui Kementerian Pertanian. Langkah ini diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang bagi permasalahan yang telah berlangsung puluhan tahun.
Tercatat ada sembilan desa yang terdampak, termasuk wilayah persawahan di Kecamatan Tirtayasa, yang membutuhkan penanganan segera. Upaya ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani serta ketahanan pangan daerah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....