Digitalisasi Hidupkan Kembali Kesenian Tradisional di Kalangan Generasi Muda

  • 27 Mar 2026 10:28 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Serang - Perkembangan platform digital seperti YouTube dan Spotify kini menjadi medium efektif dalam menyebarluaskan sekaligus menghidupkan kembali kesenian tradisional di kalangan generasi muda. Transformasi ini menunjukkan bahwa tradisi tidak lagi terbatas pada ruang-ruang konvensional, melainkan mampu beradaptasi dengan ekosistem digital yang lebih luas dan inklusif.

Widyabasa Ahli Pertama Kantor Bahasa Provinsi Banten, Nanda Ghaida Fauziyyah menyebutkan, pendekatan digital menjadi strategi penting dalam upaya revitalisasi budaya. “Kami menyusun buku dan juga video musik. Ini penting karena generasi muda sekarang sangat dekat dengan media audiovisual. Materi tersebut kemudian kami sebarluaskan melalui platform digital seperti Spotify dan YouTube,” ujarnya, Kamis, 26 Maret 2026.

Menurut Nanda, langkah ini terbukti efektif dalam menjangkau audiens yang lebih luas. Ia mengungkapkan, “Secara akumulatif, video-video revitalisasi yang kami produksi telah ditonton hampir 150.000 kali di YouTube. Capaian ini menjadi indikator bahwa digitalisasi mampu membuka akses yang lebih besar terhadap kekayaan tradisi lokal,” katanya.

Lebih dari sekadar konsumsi, masyarakat khususnya generasi muda juga terlibat aktif dalam proses kreatif. “Masyarakat tidak hanya menjadi penonton pasif, tetapi juga ikut berpartisipasi secara aktif dan kreatif. Ada yang membuat karya tari, ada juga yang mengaransemen ulang ke dalam gaya lo-fi, bossa nova, hingga jazz,” kata Nanda.

Nanda menambahkan, fenomena ini menegaskan bahwa revitalisasi tradisi kini tidak lagi bergantung pada ruang fisik. “Ini menunjukkan bahwa revitalisasi tidak lagi bergantung pada ruang fisik, tetapi juga berlangsung di ruang digital sebagai bagian dari ekosistem budaya,” ucapnya.

Dengan demikian, Nanda menegaskan, tradisi dapat terus hidup dan berkembang melalui berbagai bentuk reinterpretasi yang dekat dengan generasi masa kini dan perubahan bentuk bukanlah ancaman bagi nilai tradisi.

“Selama esensi dan identitasnya masih dikenali, transformasi adalah bagian dari keberlanjutan. Tradisi yang tidak beradaptasi justru berisiko ditinggalkan. Digitalisasi bisa menjadi jembatan yang menghubungkan nilai lama dengan cara baru, sehingga tradisi tetap relevan dan berdaya saing di era modern,” ujar Nanda.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....