Filosofi Bahtera Nabi Nuh dalam Semangkuk Bubur Suro

  • 26 Jun 2026 08:24 WIB
  •  Banten
Video

RRI.CO.ID, Pandeglang – Di hangatnya cahaya pagi, ratusan masyarakat berkumpul memadati halaman Kantor Desa Bandung, Kecamatan Banjar, Kabupaten Pandeglang untuk menghidupkan kembali memori sejarah nabi lewat kehangatan seporsi bubur. Di bawah saung-saung berhias anyaman daun kelapa, kepulan asap dari tungku kayu tradisional mulai membumbung sejak pagi hari menyertai prosesi ritual adat tahunan tersebut.

Kepala Desa Bandung, Wahyu Kusnadiharja mengungkapkan, tradisi memasak massal ini berakar kuat pada kisah heroik penyelamatan umat manusia di dalam bahtera Nabi Nuh alaihis salam. Ia bercerita berdasarkan literatur kitab para ulama terdahulu, peradaban dunia saat itu sempat didera paceklik hebat pasca-banjir besar melanda bumi.

"Orang tua kami menceritakan bahwasannya diaweli dari cerita Nabi Nuh alaihis salam, seluruh manusia masuk ke dalam bahtera berhari-hari hingga bersandar dan kehabisan bahan baku untuk makan. Maka saat itulah kacang-kacangan dikumpulkan, beras tinggal sedikit, terus juga gandum sedikit diolah menjadi bubur untuk mencukupi kebutuhan makan minum tepat pada 10 Muharam," Kata Wahyu menjelaskan, Kamis 25 Juni 2026.

Kondisi kritis di atas kapal diperparah dengan menipisnya stok bahan baku pangan yang tersisa bagi seluruh penumpang bahtera. Tepat pada tanggal sepuluh Muharam, Nabi Nuh memerintahkan umatnya mengumpulkan sisa-sisa beras, gandum, serta aneka jenis kacang-kacangan yang ada.

Seluruh komoditas pangan yang tersisa tersebut akhirnya diolah bersama menjadi sajian bubur pekat agar bisa mencukupi kebutuhan makan semua penumpang. Peristiwa historis penuh nilai religius inilah yang kemudian diadaptasi menjadi warisan kearifan lokal oleh masyarakat Desa Bandung secara turun-temurun.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....