Jejak Wali di Masjid Kuno Baitul Arsih Pandeglang
- 12 Mar 2026 20:01 WIB
- Banten
Video
RRI.CO.ID, Pandeglang - Angin sejuk dari lereng Gunung Karang membelai lembut tiang-tiang kayu nangka yang masih berdiri kokoh di Masjid Baitul Arsih. Masjid kuno di Kabupaten Pandeglang ini menyimpan misteri panjang mengenai awal mula penyebaran Islam di tanah Banten. Tanpa catatan tahun pembangunan yang pasti, bangunan ini diyakini telah melewati usia tiga abad dan menjadi saksi bisu perjalanan panjang dari penyebaran islam, era kolonial hingga kemerdekaan.
Struktur utama masjid yang berukuran 13 x 11 meter ini tetap mempertahankan keasliannya meskipun zaman telah berganti serba modern. Dinding dan kerangka bangunan mayoritas menggunakan kayu nangka serta kayu gunung jenis cangcaratan yang dikenal sangat awet. Hanya bagian atap yang mengalami perubahan, yakni pada tahun 1945 saat anyaman daun kelapa atau hateup diganti menggunakan genteng tanah liat.
Masjid ini memiliki aura spiritual yang kental, terutama bagi para pencari ketenangan di bulan suci Ramadan. Menurut penuturan Tokoh Masyarakat turun-temurun, lokasi ini dahulu menjadi titik temu para wali saat merapatkan syiar Islam di tanah Jawa. Kesederhanaan bangunan yang tanpa polesan kemewahan justru menjadi daya tarik utama bagi jemaah yang ingin melakukan itikaf atau sekadar melepas penat dari hiruk pikuk kota.
Pengurus Masjid Baitul Arsih, Madjali, menyebutkan bahwa silsilah pendiri masjid ini tidak diketahui pasti oleh warga lokal karena usianya yang terlampau tua. Namun, diperkirakan bangunan ini sudah berdiri sejak abad ke-16 atau ke-17 merujuk pada beberapa pendapat tokoh agama. Meski telah masuk dalam daftar cagar budaya, menurutnya perawatan bangunan masih dilakukan secara swadaya oleh masyarakat setempat agar keasriannya tetap terjaga.
"Tahun berdirinya tidak ada yang tahu pasti, tapi diperkirakan sudah 300 tahun atau dari abad ke-17. Kayu nangka yang digunakan ini masih asli, termasuk beduk dan kentongan yang satu paket sejak dulu," ujar Madjali,
Ruang utama masjid yang beralaskan kayu mampu menampung sekitar 200 jemaah dalam satu waktu pelaksanaan salat. Meski demikian Madjali menerangkan ada aturan tidak tertulis yang dijaga ketat oleh masyarakat, yakni pemisahan jemaah laki-laki dan perempuan demi menjaga kesucian area kayu kuno tersebut. Jemaah perempuan biasanya diarahkan ke bangunan tambahan yang lebih baru di sisi samping bangunan utama agar tradisi lama tetap lestari.
Suasana di dalam Masjid Baitul Arsih diakuinya sangat sejuk dan mampu membuat siapa saja betah berlama-lama melakukan wirid. Madjali menceritakan bahwa banyak peziarah yang mampu bertahan hingga berjam-jam karena merasa tenang dan adem saat berada di dalam. Hal ini pula yang membuat masjid ini selalu terbuka 24 jam bagi siapa saja yang ingin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
"Perasaan ibadah di sini beda, rasanya adem sekali jadi orang betah wirid sampai dua jam. Pengunjung datang dari seluruh Indonesia, ada yang dari Aceh dan Bandung hanya untuk iktikaf dan mencari ketenangan di sini," ujar pria berusia 70 tahun tersebut.
Menurutnya masyarakat berkomitmen tidak akan merombak bentuk asli bangunan demi mempertahankan nilai sejarah dan tradisi yang ditinggalkan para pendahulu. Di balik tiang nangkanya yang menghitam dimakan usia, Madjali meyakini Masjid Baitul Arsih bukan hanya tempat ibadah, tetapi sebagai simbol keteguhan iman dan warisan budaya yang tak lekang oleh waktu. Karena menurutnya, masjid ini menjadi bukti bahwa kemewahan fisik bukanlah syarat utama dalam menciptakan kekhusyukan ibadah di hadapan Ilahi.