Ekstrakurikuler Budaya Solusi Atasi Ketergantungan Anak Terhadap Gawai

  • 06 Okt 2026 07:27 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Serang - Maraknya penggunaan gawai (gadget) pada anak usia sekolah kini menjadi perhatian serius para pendidik dan orang tua di Kabupaten Serang. Sebagai langkah konkrit menekan angka ketergantungan gawai sekaligus melestarikan budaya yang kian langka, Yayasan Terpadu Ibadurahman Ciruas menginisiasi ekstrakurikuler seni pedalangan bagi para siswanya.

Pendidik Seni Yayasan Terpadu Ibadurahman, Fetty Octaria, mengatakan langkah ini diambil menyusul banyaknya keluhan dari para orang tua murid mengenai tingginya durasi penggunaan gawai pada anak-anak. Melalui seni pedalangan, pihak sekolah berupaya mengalihkan perhatian siswa ke kegiatan yang lebih produktif dan berkarakter.

"Banyak keluhan dari orang tua bahwa anak-anak sering bermain handphone. Jadi, kami memberanikan diri mengadakan ekstrakurikuler di bidang pedalangan wayang ini. Alhamdulillah, tanggapan dari sekolah, lembaga yayasan, dan orang tua sangat mendukung 100 persen," ujar Fetty, Senin 5 Oktober 2026.

Meski ekstrakurikuler tersebut baru berjalan satu tahun, para siswa Yayasan Ibadurahman telah menunjukkan progres signifikan hingga mampu berlaga di tingkat provinsi. Menurut Fetty, regenerasi seni tradisi pada usia dini sangat krusial agar generasi muda tidak asing dengan identitas budayanya sendiri.

Upaya yang dilakukan pihak sekolah ini selaras dengan program pembinaan karakter dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Provinsi Banten. Kepala Bidang Kebudayaan Dindikbud Provinsi Banten, Rohendi, menjelaskan pihak pemerintah terus mendorong sosialisasi kebudayaan ke lembaga-lembaga pendidikan melalui program "Wayang Masuk Sekolah".

"Melalui wayang, banyak ajaran dan tuntunan moral yang dapat membentuk karakter anak sesuai nilai-nilai kebangsaan. Kami berharap para kepala sekolah dan kepala cabang dinas dapat terus mensosialisasikan program edukasi berbasis pendalangan ini," katanya.

Respons positif juga datang dari para peserta didik. Devan, salah satu peserta Festival Dalang Cilik, mengaku antusias meski harus melatih ketangkasan fisiknya saat mengolah wayang. "Perasaannya senang dan lega setelah selesai tampil. Biasanya tegang. Kesulitan waktu latihan itu pas memutar kayon, sama kulit tangan kadang-kadang sakit. Tapi kalau ada lomba lagi, saya mau ikut lagi," ujar Devan.

Melalui sinergi antara sekolah, orang tua, dan pemerintah daerah, seni pedalangan diharapkan tidak hanya menjadi sarana pengereman dampak negatif teknologi. Namun juga menjadi laboratorium karakter bagi lahirnya generasi muda Banten yang berakar kuat pada budayanya. (Hani)

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....