Penyuluh Agama Lebak Perkuat Kompetensi dan Ukhuwah Melalui Pengajian

  • 16 Sep 2026 05:50 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Lebak - Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kabupaten Lebak kembali memperkuat soliditas dan kapasitas anggotanya melalui Pengajian Triwulan yang digelar di Masjid Al-Ikhlas Citra Maja City, Kecamatan Maja, Kabupaten Lebak, Selasa, 15 September 2026. Kegiatan ini tidak sekadar menjadi forum pengajian rutin, tetapi juga ruang bertukar pengalaman, memperdalam keilmuan, sekaligus mempererat silaturahmi para Penyuluh Agama Islam yang tersebar di berbagai wilayah Kabupaten Lebak.

Pengajian tersebut dihadiri para Penyuluh Agama Islam se-Kabupaten Lebak. Di tengah tantangan penyuluhan yang semakin beragam, forum triwulanan tersebut menjadi momentum penting untuk memastikan para penyuluh tetap memiliki bekal keilmuan, wawasan, dan kemampuan komunikasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Ketua IPARI Kabupaten Lebak, Suryatno, mengatakan tugas Penyuluh Agama memiliki tantangan tersendiri karena wilayah kerja mereka membentang dari kawasan perkotaan hingga pelosok pedesaan. “Sebagai Penyuluh Agama, tugas kita di lapangan dari wilayah perkotaan hingga ke pelosok pedesaan di Kabupaten Lebak memang penuh tantangan. Namun, mari jadikan setiap langkah kita sebagai ladang ibadah,” ujar Suryatno.

Tantangan tersebut harus dijawab dengan peningkatan kompetensi, integritas, serta kemampuan menghadirkan dakwah Islam yang ramah dan menyejukkan. Ia mengajak seluruh Penyuluh Agama untuk terus mengasah kemampuan agar pesan-pesan keagamaan dapat disampaikan secara santun serta mampu menjawab dinamika kehidupan masyarakat.

“Teruslah mengasah kompetensi, menjaga integritas, dan menyebarkan nilai Islam yang rahmatan lil 'alamin dengan tutur kata yang santun dan menyejukkan,” katanya. Suryatno juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Daerah, Kementerian Agama, para tokoh agama, dan seluruh elemen masyarakat yang selama ini mendukung pelaksanaan tugas Penyuluh Agama di Kabupaten Lebak.

Ia berharap kolaborasi tersebut terus terjaga sehingga penyuluh dapat menjalankan perannya secara optimal sebagai bagian dari pelayanan keagamaan kepada masyarakat. Kasi Bimas Islam Kantor Kemenag Lebak, Sudirman, menegaskan posisi Penyuluh Agama sebagai ujung tombak sekaligus wajah Kementerian Agama di tengah masyarakat.

“Penyuluh Agama Islam adalah ujung tombak dan wajah Kementerian Agama di tengah-tengah masyarakat. Tugas yang Bapak dan Ibu emban bukanlah tugas yang ringan,” ucap Sudirman.

Para penyuluh memiliki tanggung jawab menyampaikan nilai-nilai moderasi beragama, memberikan bimbingan keagamaan yang sejuk, serta menyukseskan berbagai program strategis Bimas Islam. Tanggung jawab tersebut semakin penting karena para penyuluh harus menjangkau masyarakat di berbagai karakter wilayah, mulai dari pesisir selatan hingga kawasan pegunungan Kabupaten Lebak.

Di tengah keberagaman masyarakat tersebut, penyuluh dituntut mampu menghadirkan dakwah yang ramah, edukatif, dan tetap menghargai kearifan lokal. Karena itu, Pengajian Triwulan IPARI menjadi ruang strategis untuk melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan tugas sekaligus memperkaya wawasan dan pengalaman para penyuluh. .

“Melalui forum triwulanan ini, setiap langkah dakwah dievaluasi, keilmuan diperdalam, dan semangat kolektif kembali dibakar,” kata Sudirman.

Penguatan kompetensi dalam kegiatan tersebut salah satunya diwujudkan melalui tausyiah yang disampaikan Penyuluh Agama Islam Kantor Kemenag Lebak, Rita Desturiana, dengan materi Tahsin Al-Qur'an. Rita membahas perbedaan sistem tanda baca atau dhabth pada Mushaf Standar Saudi Arabia atau Mushaf Madinah dengan Mushaf Standar Indonesia (MSI).

Dalam materi tersebut dijelaskan bahwa perbedaan kedua mushaf bukan terletak pada batang tubuh huruf maupun substansi bacaannya, melainkan terutama pada sistem harakat dan tanda baca yang digunakan. Salah satu contoh yang dibahas adalah penulisan lafaz Allah dalam Basmalah.

Sistem tanda baca pada Mushaf Madinah memiliki karakteristik tersendiri, sementara Mushaf Standar Indonesia menggunakan penanda yang lebih eksplisit untuk membantu pembaca mengenali panjang-pendek bacaan. Rita menekankan bahwa kedua mushaf sama-sama berlandaskan Rasm Usmani dan memiliki tujuan yang sama, yakni membantu umat Islam membaca Al-Qur'an secara benar.

Perbedaan sistem tanda baca lebih merupakan penyesuaian tradisi penulisan dan kebutuhan pembaca di masing-masing wilayah. Selain penguatan keilmuan, kegiatan tersebut juga menjadi momentum emosional melalui Paturay Tineung bagi dua Penyuluh Agama yang telah memasuki masa purnabakti, yakni H. Ade Muslih dan Sudarmiyati.

Suasana hangat mewarnai prosesi tersebut. Para Penyuluh Agama menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas dedikasi, pengabdian, serta kontribusi keduanya selama menjalankan amanah sebagai Penyuluh Agama.

Melalui Pengajian Triwulan ini, IPARI Kabupaten Lebak menegaskan komitmennya untuk terus membangun penyuluh yang kompeten, solid, dan dekat dengan masyarakat. Forum tersebut diharapkan menjadi energi bersama untuk menghadirkan dakwah yang relevan, menyejukkan, serta memperkuat kerukunan di Kabupaten Lebak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....