Guru Madrasah Leuwidamar Gelar Pelatihan Kurikulum Berbasis Cinta
- 11 Sep 2026 09:37 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Lebak - Kelompok Kerja Guru (KKG) Madrasah Ibtidaiyah (MI) Kecamatan Leuwidamar menggelar Pelatihan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) pada Kamis, 10 September 2026. Kegiatan berlangsung di MI Alwasliyah, Kecamatan Leuwidamar.
Pelatihan tersebut diikuti sebanyak 55 peserta, terdiri dari kepala madrasah dan guru MI dari 11 lembaga Madrasah Ibtidaiyah se-Kecamatan Leuwidamar. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya KKG MI Kecamatan Leuwidamar dalam meningkatkan kompetensi pendidik sekaligus memperkuat pemahaman guru terhadap pendekatan pembelajaran yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.
Pelatihan menghadirkan Pengawas Madrasah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lebak, Iyan Hayani, sebagai narasumber. Ia memberikan materi mengenai konsep dan penerapan Kurikulum Berbasis Cinta dalam proses pendidikan di madrasah.
Dalam pemaparannya, Iyan menjelaskan, Kurikulum Berbasis Cinta merupakan pendekatan pendidikan yang menempatkan kasih sayang, kepedulian, penghargaan, keteladanan, dan pembentukan karakter sebagai bagian penting dalam proses pembelajaran. Pendidikan tidak semata-mata berorientasi pada pencapaian akademik peserta didik.
Lebih dari itu, madrasah perlu menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, humanis, dan mampu menumbuhkan potensi anak secara utuh. “Melalui Kurikulum Berbasis Cinta, guru diharapkan tidak hanya hadir untuk menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga hadir dengan hati,” ujar Iyan.
Ia menekankan pentingnya peran guru sebagai teladan bagi peserta didik. Sikap, tutur kata, kepedulian, dan cara guru berinteraksi dengan siswa dinilai turut menentukan terbentuknya karakter anak. Iyan juga mendorong para guru untuk membangun kedekatan yang positif dengan peserta didik.
Hubungan yang baik antara guru dan siswa diharapkan dapat menciptakan suasana pembelajaran yang lebih menyenangkan dan mendorong anak berani mengembangkan potensinya. Penerapan KBC tidak cukup hanya dipahami sebagai konsep atau teori dalam kegiatan pelatihan. Nilai-nilai tersebut harus diwujudkan dalam praktik pembelajaran sehari-hari di lingkungan madrasah.
“Harapannya, para guru dapat membawa semangat Kurikulum Berbasis Cinta ke dalam kelas dan menjadikannya sebagai budaya dalam memberikan pelayanan pendidikan kepada peserta didik,” ucapnya. Ia berharap para peserta dapat mengimplementasikan materi yang diperoleh sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing madrasah.
Dengan demikian, pelatihan dapat memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas pembelajaran. Pengawas Wilayah Binaan Kecamatan Leuwidamar sekaligus Ketua Pokjawas Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lebak, Nuryahya, memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan pelatihan tersebut.
KKG memiliki peran strategis dalam meningkatkan kompetensi guru. Forum tersebut juga dapat menjadi ruang bagi para pendidik untuk berbagi pengalaman dan menemukan solusi terhadap berbagai tantangan dalam proses pembelajaran.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan KKG MI Kecamatan Leuwidamar ini,” kata Nuryahya. Ia menilai Kurikulum Berbasis Cinta relevan dengan kebutuhan pendidikan saat ini. Peserta didik, menurutnya, tidak hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga perhatian, keteladanan, kasih sayang, serta lingkungan pendidikan yang positif.
Nuryahya berharap seluruh peserta dapat menerapkan hasil pelatihan di lembaga masing-masing. Ia juga mendorong KKG untuk terus mengembangkan berbagai kegiatan peningkatan profesionalisme guru secara berkelanjutan.
“Semoga kegiatan ini memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas pembelajaran dan membentuk peserta didik yang berilmu, berkarakter, berakhlak mulia, serta memiliki kepedulian terhadap sesama,” katanya. Apresiasi juga disampaikan salah seorang peserta pelatihan, Rosmala Dewi.
Ia mengaku bersyukur dapat mengikuti kegiatan tersebut karena materi yang diberikan memberikan perspektif baru dalam menjalankan tugas sebagai pendidik. Pelatihan KBC memberikan pemahaman bahwa tugas guru bukan hanya menyampaikan materi pelajaran kepada peserta didik.
Guru juga memiliki tanggung jawab untuk membangun hubungan yang baik dan memberikan pendidikan dengan penuh perhatian. “Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami sebagai guru. Kami mendapatkan pemahaman bahwa mendidik bukan hanya tentang menyampaikan materi, tetapi bagaimana memberikan pendidikan dengan hati dan membangun hubungan yang baik dengan peserta didik,” ucap Rosmala.
Ia berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkesinambungan. Dengan adanya kegiatan pengembangan kompetensi secara rutin, para guru dapat terus meningkatkan kemampuan sekaligus memperkuat penerapan nilai-nilai KBC di madrasah.
Rosmala juga berharap penerapan Kurikulum Berbasis Cinta dapat menjadikan madrasah sebagai lingkungan belajar yang nyaman, menyenangkan, dan penuh kasih sayang. Suasana tersebut penting untuk mendukung perkembangan potensi setiap peserta didik.
“Semoga setelah mengikuti pelatihan ini, kami dapat menerapkan KBC di madrasah masing-masing dan menjadikan madrasah sebagai tempat belajar yang nyaman, menyenangkan, penuh kasih sayang, serta mampu mengembangkan potensi setiap anak,” ujarnya. Pelatihan Kurikulum Berbasis Cinta KKG MI Kecamatan Leuwidamar diharapkan menjadi langkah nyata dalam memperkuat kualitas pendidikan madrasah.
Melalui penerapan nilai kasih sayang, keteladanan, kepedulian, dan penghargaan terhadap peserta didik, proses pembelajaran diharapkan semakin humanis, berkarakter, serta berorientasi pada tumbuh kembang anak secara menyeluruh.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....