Pisang Lebak Jadi Andalan Ekonomi Petani Daerah

  • 17 Jun 2026 06:43 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID , Lebak – Komoditas pisang terus menjadi salah satu penopang utama perekonomian masyarakat Kabupaten Lebak, Banten. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Rahmat Yuniar, mengatakan pengembangan tanaman pisang terus dilakukan karena memiliki prospek pasar yang menjanjikan.

Permintaan pasar terhadap komoditas pisang masih sangat tinggi sehingga mampu meningkatkan pendapatan petani di berbagai wilayah. "Kita terus mengembangkan pertanian pisang, karena permintaan pasar cukup tinggi juga bisa meningkatkan ekonomi petani," kata Rahmat di Lebak, Selasa, 16 Juni 2026.

Tanaman pisang kini telah dikembangkan di 28 kecamatan di Kabupaten Lebak. Pemerintah daerah juga terus memberikan dukungan kepada petani melalui penyaluran bantuan benih unggul.

Bantuan tersebut bertujuan untuk meningkatkan mutu dan kualitas hasil panen agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas. Kabupaten Lebak saat ini menjadi daerah penghasil pisang terbesar di Provinsi Banten.

Tingginya produksi pisang dapat dilihat dari aktivitas distribusi yang berlangsung setiap hari. Setiap sore, puluhan truk diesel dan mobil pikap terlihat mengangkut hasil panen pisang ke berbagai daerah tujuan pemasaran.

Pisang asal Lebak dipasok ke sejumlah wilayah besar seperti Tangerang, Bogor, Depok, Bekasi, hingga DKI Jakarta. Volume pengiriman tersebut mencapai ratusan ton setiap bulan.

"Saya kira perputaran uang hasil penjualan pisang di 28 kecamatan hingga miliaran rupiah per bulan dengan produksi ratusan ton per bulan," ujar Rahmat.

Harga pisang di tingkat petani cukup beragam tergantung jenis dan kualitas buah yang dihasilkan. Pisang yang dibudidayakan petani Badui, misalnya, dikenal memiliki kualitas yang baik dan diminati pasar. Saat ini, harga pisang nangka berada di kisaran Rp30 ribu per tandan.

Pisang ambon dijual sekitar Rp100 ribu per tandan dan pisang Muli mencapai Rp60 ribu per tandan. Adapun pisang ketan dipasarkan dengan harga Rp70 ribu per tandan, sedangkan pisang galek mencapai Rp90 ribu per tandan.

Untuk jenis pisang raja buluh dijual Rp90 ribu per tandan, pisang raja sereh Rp70 ribu per tandan, dan pisang kepok Rp80 ribu per tandan. Rahmat menegaskan, keberadaan komoditas pisang memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat pedesaan.

"Kehidupan petani pisang cukup sejahtera dan mampu membangun rumah hingga melaksanakan ibadah haji ke Tanah Suci," katanya. Ia memperkirakan petani yang mengelola lahan satu hektare dengan sekitar 2.500 pohon pisang dapat memperoleh pendapatan hingga Rp10 juta per bulan.

"Kita yakin pendapatan petani rata-rata Rp2,5 juta per pekan jika tanam seluas satu hektare dengan jumlah 2.500 pohon," ujar Rahmat. Pelaksana Tugas Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Lebak, Imam Suangsa, mengatakan komoditas pisang juga mendorong tumbuhnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

"Kita mengapresiasi UMKM produk aneka makanan camilan pisang bisa menembus pasar ritel modern dan dapat meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat juga menanggulangi kemiskinan dan pengangguran," kata Imam.

Salah seorang pelaku UMKM yang juga warga Desa Sawarna, Kecamatan Bayah, Maman mengaku usahanya memproduksi sale pisang yang dipasarkan hingga ke Cianjur dan Bandung. "Kami merasa terbantu pendapatan ekonomi keluarga dengan mengembangkan produk sale pisang itu bisa menghasilkan omzet Rp30-35 juta per dua pekan," ucap Maman.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....