Petani Badui Syukuri Panen Padi Huma Melimpah

  • 20 Apr 2026 22:30 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID,Lebak - Sejumlah petani Badui di Kabupaten Lebak, mengungkapkan rasa syukur atas hasil panen padi huma yang melimpah pada musim tanam 2025–2026. Panen padi huma tersebut berlangsung serempak sejak awal April 2026, setelah masa tanam yang dimulai pada November 2025 dengan menggunakan benih varietas lokal.

Salah seorang petani Badui, Santa, mengatakan hasil panen tahun ini sangat memuaskan karena tidak mengalami gangguan hama maupun penyakit tanaman.

“Kami bersama petani di sini cukup puas dengan hasil panen padi huma,” ujar Santa ,Senin 20 April 2026.

Ia menyebutkan dari lahan kurang dari satu hektare, panen padi huma dapat menghasilkan sekitar 350 ikat gabah atau geges. Menurutnya, hasil panen tersebut kemudian dibawa ke permukiman untuk disimpan di lumbung pangan tradisional atau leuit sebagai cadangan kebutuhan keluarga.

Selain menanam padi huma, petani Badui juga menggarap lahan di kawasan hutan untuk ditanami berbagai komoditas lain seperti hortikultura dan palawija. “Kami menanam di lahan itu bisa menghasilkan pendapatan ekonomi dan ketersediaan pangan keluarga,” katanya.

Tetua adat sekaligus Kepala Desa Kanekes, Jaro Oom, menjelaskan, mayoritas masyarakat Badui menggantungkan hidup dari sektor pertanian ladang. Dengan jumlah penduduk sekitar 16 ribu jiwa yang tersebar di 68 kampung, termasuk tiga kampung Badui Dalam, sistem pertanian tradisional masih menjadi andalan utama.

Jaro Oom menegaskan, masyarakat Badui hingga kini tidak pernah mengalami kelaparan karena memiliki cadangan pangan yang cukup dari hasil panen padi huma.

“Kita merasa bersyukur panen padi tahun ini melimpah, sehingga stok pangan terus bertambah,” katanya.

Ia juga mengungkapkan bahwa cadangan padi yang disimpan di leuit bahkan dapat bertahan dalam jangka waktu sangat lama, hingga ratusan tahun. Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Deni Iskandar, menilai sistem pertanian masyarakat Badui merupakan contoh ketahanan pangan berbasis kearifan lokal.

Menurutnya, pola tanam organik tanpa bahan kimia serta sistem penyimpanan tradisional menjadikan masyarakat Badui mandiri dan berkelanjutan. “Ini menjadi contoh bahwa kearifan lokal juga bisa mendukung ketahanan pangan daerah,” ujar Deni.

Dengan keberhasilan panen tersebut, pertanian masyarakat Badui dinilai mampu menjadi inspirasi dalam menjaga stabilitas pangan di tengah berbagai tantangan sektor pertanian modern.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....