Sosmed Tantangan Al-Qur’an Jadi Kompas dalam Hidup

  • 02 Mar 2026 13:03 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Serang - Gempuran media sosial menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda dalam menjaga kualitas spiritual. Kondisi tersebut mendorong Komunitas Sahabat Quran FKIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) mengajak mahasiswa menjadikan Al-Qur’an sebagai kompas hidup di tengah derasnya arus digital.

Ketua Umum Komunitas Sahabat Quran Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Willy Handri, menilai kebiasaan menggulir layar gawai kerap menggeser waktu yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk membaca dan mentadaburi Al-Qur’an. Menurutnya, tantangan ini harus dihadapi dengan pendekatan yang relevan dengan karakter anak muda.

“Jempol kita hari ini lebih lihai untuk scroll media sosial daripada membuka Al-Qur’an. Ini tantangan zaman, tapi juga bisa diubah kalau kita mau memulai,” ujarnya dalam sesi Talkshow Sore Ceria bersama RRI Pro 2 Banten, Minggu, 1 Maret 2026.

Willy menjelaskan, langkah awal mendekatkan diri dengan Al-Qur’an dapat dimulai dari hal sederhana, seperti mengganti sebagian waktu scroll dengan membaca satu halaman Al-Qur’an atau mendengarkan murottal. Ia juga mendorong pemanfaatan aplikasi Al-Qur’an digital sebagai solusi praktis bagi mahasiswa yang mobilitasnya tinggi.

Menurutnya, Al-Qur’an memiliki tiga peran penting dalam kehidupan mahasiswa. Pertama, sebagai kompas yang memberikan arah hidup di tengah kebingungan dan tekanan akademik. Kedua, sebagai penenang jiwa ketika dihadapkan pada riuhnya informasi dan persoalan personal. Ketiga, sebagai sarana perubahan diri yang berdampak pada sikap dan akhlak.

“Kalau kita jadikan Al-Qur’an sebagai kompas, maka ketika hidup terasa rumit, kita tahu ke mana harus kembali,” katanya.

Ia menambahkan, perubahan yang dirasakan anggota komunitas tidak hanya terlihat dari kemampuan membaca Al-Qur’an, tetapi juga dari sikap keseharian. Beberapa anggota bahkan berhasil meraih prestasi dalam lomba karya tulis ilmiah dan bidang tajwid setelah aktif mengikuti pembinaan.

Dalam konteks Ramadan, Willy menyebut bulan suci sebagai kesempatan emas untuk membangun kebiasaan baru. Ia mengingatkan agar mahasiswa tidak terjebak pada target kuantitas semata, melainkan fokus pada kualitas dan pengamalan nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

“Jangan sampai informasi kita luas karena media sosial, tapi jiwa kita justru terbatas. Al-Qur’an itu yang meluaskan hati dan cara pandang,” ucapnya.

Komunitas Sahabat Quran FKIP Untirta terus berupaya menghadirkan program yang menarik dan berdampak, termasuk pelatihan bersertifikat yang dapat menunjang portofolio mahasiswa. Melalui pendekatan tersebut, komunitas berharap mampu menjadi ruang aman bagi mahasiswa yang ingin belajar Al-Qur’an tanpa rasa takut atau malu.

Dengan semangat kebersamaan, Sahabat Quran FKIP Untirta menegaskan komitmennya untuk menumbuhkan generasi muda yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga kuat secara spiritual di tengah tantangan zaman digital.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....