Akademisi Perkuat Moderasi Tangkal Radikalisme
- 10 Feb 2026 13:47 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Serang – Peran akademisi dinilai semakin penting dalam menangkal radikalisme berbasis agama yang kerap tumbuh akibat pemahaman keagamaan yang sempit dan terpotong. Kampus dipandang sebagai ruang strategis untuk menumbuhkan nalar kritis dan pemahaman agama yang moderat di tengah masyarakat.
Ketua LBM Nahdlatul Ulama Kota Serang, M. Raudho, mengatakan radikalisme sering muncul ketika ajaran agama dipahami hanya secara tekstual tanpa melihat konteks sosial dan sejarah. Kondisi tersebut berpotensi melahirkan sikap eksklusif dan klaim kebenaran tunggal yang membahayakan harmoni sosial. “Radikal itu muncul ketika agama dipahami secara instan dan sepotong-potong,” ujarnya kepada RRI Banten dalam Dialog Moderasi Beragama, Selasa, 10 Februari 2026 .
Menurutnya, akademisi memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan pemahaman keagamaan yang utuh, seimbang, dan adil. Ia menekankan konsep ummatan wasathan atau umat yang moderat sebagai prinsip utama dalam Islam. Nilai tersebut mengajarkan keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat serta menolak sikap ekstrem, baik ke kanan maupun ke kiri.
Lebih lanjut Raudho menjelaskan, proses pendidikan di kampus seharusnya tidak berhenti pada aktivitas membaca teks keagamaan. Akademisi perlu membimbing mahasiswa agar mampu memahami, menganalisis, dan mengkritisi setiap rujukan secara ilmiah. Pendekatan ini diyakini mampu mencegah mahasiswa terjebak pada pemahaman keagamaan yang kaku dan tertutup.
Selain di ruang kelas, akademisi juga diharapkan aktif turun ke masyarakat melalui dialog kebangsaan dan edukasi publik. Kegiatan tersebut menjadi sarana penting untuk memperkuat nilai toleransi serta mencegah penyebaran paham ekstrem yang kerap menyasar kelompok muda dan rentan.
Ia menambahkan, peran akademisi menjadi semakin krusial di tengah derasnya arus informasi digital. Tanpa kehadiran narasi keagamaan yang moderat dan kredibel, ruang publik berpotensi dipenuhi hoaks serta propaganda yang mengatasnamakan agama. “Akademisi harus hadir sebagai penjernih, bukan pembenaran kekerasan,” ujarnya.
Raudho berharap, kolaborasi antara kampus, tokoh agama, dan media dapat terus diperkuat untuk merawat moderasi beragama serta menjaga persatuan di tengah keberagaman masyarakat, katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....