Banjir Pandeglang Surut, Mitigasi Jangka Panjang Jadi Catatan
- 05 Jan 2026 16:15 WIB
- Banten
KBRN, Pandeglang: Kondisi hidrometeorologi di Kabupaten Pandeglang yang memicu banjir sejak Jumat lalu, kini mulai membaik. Memasuki awal pekan ini, genangan air di sejumlah titik dilaporkan telah surut total, sehingga aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat kembali berjalan normal.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD PK) Kabupaten Pandeglang, Riza Ahmad Kurniawan mengonfirmasi, pemulihan signifikan terjadi di wilayah terdampak paling parah, termasuk Kecamatan Cikeusik. Menurutnya, pemantauan di lapangan sejak Minggu sore hingga Senin pagi menunjukkan debit air sudah tidak lagi menggenangi pemukiman warga.
"Kondisi di titik-titik banjir Kabupaten Pandeglang sudah kembali surut. Aktivitas masyarakat sudah bisa berjalan dengan normal kembali," ucap Riza, Senin (5/1/2025).
Meski situasi mereda, BPBD PK mencatat sebaran dampak bencana di awal Januari ini cukup luas, mencakup 7 kecamatan yang tersebar di wilayah Pandeglang, yaitu Kecamatan Patia, Cikeusik, Sukaresmi, Pagelaran, Sobang, Angsana, dan Panimbang. Hasil pendataan BPBD PK sebanyak 14 desa dan 21 kampung sempat terisolasi, dan terendam luapan air akibat intensitas hujan tinggi selama tiga hari berturut-turut, kini mulai berangsur surut.
Walaupun demikian, tantangan mengenai mitigasi dan tata kelola drainase di 21 kampung tersebut masih menjadi catatan kritis yang menyertai berulangnya bencana hidrometeorologi di wilayah tersebut. Luasnya cakupan dampak di tujuh kecamatan sekaligus menurutnya menunjukkan kerentanan infrastruktur lokal dalam menghadapi cuaca ekstrem yang diprediksi masih akan berlanjut.
"Hasil pendataan kita dari kejadian banjir awal Januari ini ada 7 kecamatan, kemudian ada 21 kampung dan 14 desa yang terdampak," katanya.
Menurut Riza, berulangnya pola bencana di lokasi yang sama setiap awal tahun mengindikasikan adanya hambatan serius dalam upaya mitigasi jangka panjang di wilayah tersebut. Kondisi ini menurutnya harus menjadi intervensi pemerintah yang belum menyentuh akar permasalahan pada level bawah sehingga kerentanan masyarakat terhadap banjir tetap tinggi. (Ridwan Maulana)