Sains, AI, dan Batas Metafisika
- 28 Nov 2025 08:45 WIB
- Banjarmasin
KBRN, Banjarmasin: Di dunia ini, terjadinya peristiwa alam tidak terlepas dari kajian ilmu fisika yang mempelajari persamaan dan hukum alam terkait mekanika, termodinamika dan sifat fisis pada materi suatu benda atau zat. Seperti halnya pesawat terbang melawan gaya gravitasi; kapal laut dengan Hukum Archimedesnya; kalor merupakan energi serta masih banyak lainnya yang dikaji dalam fisika.
Mendalami ilmu fisika, akan memberikan gambaran luas tentang bagaimana proses dan hukum dapat berlaku pada fenomena yang terjadi. selain itu, Fisika juga dapat memprediksi atau meramalkan peristiwa yang akan terjadi seperti ramalan cuaca, pergeseran lempeng bumi, gunung meletus, serta peristiwa alam lainnya.
Melalui fisika, dapat membuka cakrawala kehidupan bahwa tidak ada fenomena alam yang terjadi secara kebetulan tanpa adanya sebab-akibat atau aksi-reaksi dari peristiwa lainnya.
Fisika vs Metafisika
Belajar fisika erat kaitannya dengan metafisika dalam dunia filsafat. Keberadaan dan realitas dunia fisik yang menjadi akar filosofis dari ilmu fisika bias akita sebut dengan Metafisika. Persamaan metafisika dengan fisika yaitu memiliki sifat untuk mencari kebenaran dari peristiwa yang terjadi.
Selain itu, keduanya juga mempelajari hal yang tidak tampak oleh panca indera atau bisa dikatakan fisika dan metafisika sama-sama dunia ghaib. Namun perbedaannya, ilmu fisika dapat menganalisis dan membuktikan proses terjadinya peristiwa, sedangkan metafisika tidak dapat membuktikan secara fisik tetapi dipercaya keberadaannya melalui pemikiran atau renungan.
Pada fisika, kita tidak dapat melihat listrik dan energi tetapi dapat dihitung persamaannya, dianalisis, dibuktikan serta dirasakan dampaknya. Dunia metafisika biasanya dihubungkan dengan supranatural karena dianggap mampu meramal peristiwa yang akan terjadi di masa datang, seperti nasib, derajat atau pangkat seseorang.
Beberapa orang menganggap posisi metafisika berada di atas fisika karena sifatnya yang bisa meramalkan hal-hal yang tidak dapat diramalkan oleh fisika. Padahal, fisika dan metafisika sejatinya saling berkaitan dalam menjelaskan realitas dan hukum yang mengatur peristiwa alam.
Fisika yang menjelaskan konsep fisis dari peristiwa alam dapat menggambarkan keberadaan realitas metafisika, sedangkan metafisika merupakan awal renungan munculnya teori-teori fisika.
Logika Berpikir Sains-Digital
Secara tidak langsung, era digital yang saat ini kita alami merupakan perkembangan kolaborasi fisika dan metafisika yang dipelajari oleh para akademisi. Ketika kita belajar fisika, maka sejatinya kita juga mempelajari metafisika yang akhirnya dapat menumbuhkan logika berpikir sains dan digital secara bersamaan.
Logika berpikir sains dan digital menunjukkan adanya keterkaitan anatara ruang dan waktu. Dalam fisika, waktu dipelajari secara empiris melalui analisis peristiwa dan gerak, sedangkan dalam metafisika, ruang dan waktu dipahami sebagai wujud dasar keberadaannya. Keduanya saling melengkapi dalam menjelaskan realitas alam.
Posting his tory atau story pada media sosial merupakan bentuk metafisika yang menggambarkan keberadaan ruang dan waktu. Dimensi ruang memberikan informasi posisi seseorang, sedangkan dimensi waktu memberikan informasi waktu yang terjadi pada orang tersebut.
Ruang dan waktu merupakan hal penting dalam berpikir sains dan digital karena pertemuan tidak bisa terjadi apabila terdapat perbedaan antara ruang dan waktu. Berdasarkan logika sains dan digital, pada ruang dan waktu yang sama, story yang sering dilihat oleh banyak orang akan sering muncul pada For You Page (FYP) hingga menyebabkan story tersebut viral.

(Foto: Ilustrasi Gemini AI tentang Logika Berpikir Sains dan Digital)
Berbagai macam hastag yang bermunculan di media sosial, menunjukkan bahwa logika sains dan digital memerlukan kode dalam menyeleksi banyaknya data yang masuk pada sebuah sistem. Kode yang sama serta berada dalam ruang dan waktu yang sama akan segera terbaca pada algoritma sistem media sosial sehingga menjadi viral.
Hashtag yang ditampilkan menunjukkan kumpulan informasi dan peristiwa yang berlangsung dalam ruang dan waktu yang bersamaan. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan logika sains dan digital tidak hanya bersandar pada fisika tetapi juga metafisika untuk mengetahui makna kejadian sebuah peristiwa.
Lahirnya AI
Berdasarkan fisika dan metafisika, perkembangan logika sains dan digital ternyata dapat membawa perubahan yang signifikan dalam kecerdasan buatan atau Artificial Intellegence (AI). Semua informasi yang dihimpun dalam internet, dapat dikelola dan dianalisis oleh sistem untuk menghasilkan jawaban atau penjelasan dari sebuah peristiwa yang terjadi. Para ahli menyebutkan bahwa AI merupakan bentuk baru dari cara berpikir logika sains-digital.
Melalui AI, kita dapat memperoleh jawaban, penjelasan, informasi atau hal lainnya yang kita inginkan melalui prompt atau perintah. Lahirnya AI memberikan dasar bahwa pengembangan fisika dapat dijadikan pijakan untuk berpikir secara digital, membuktikan adanya keberadaan fisis ruang dan waktu, sedangkan perenungan metafisika menjelaskan makna sebuah peristiwa yang terjadi.
Berkembangnya AI membawa dampak baru dalam kehidupan di era digital. Masyarakat tidak lagi bertanya melalui platform digital seperti google, yahoo dan platform digital lainnya tetapi langsung bertanya melalui AI. Hal ini menyebabkan pergeseran cara berpikir masyarakat, dari memilih sendiri sumber informasi di internet menjadi penikmat informasi yang disediakan oleh AI.
Masyarakat menganggap bahwa AI merupakan pengembangan dari ilmu teknologi informasi dan komputer, tetapi jauh dari ilmu tersebut ada fisika dan metafisika yang mendasarinya. Sifat fisis dari sebuah peristiwa kemudian mencari proses kebenaran dari peristiwa yang terjadi pada media sosial merupakan sifat fisika. Gambaran yang diberikan secara virtual di media sosial sehingga diperoleh makna kejadian peristiwa tersebut merupakan bagian dari metafisika.
Persamaan algoritma dengan model matematika pada aplikasi AI berfungsi sebagai penerjemah sifat fisis dari peristiwa yang dialami dan disimpan dengan baik oleh sistem. Prompt memberikan informasi kepada sistem untuk bisa direspon dan memberikan jawaban yang sesuai agar bisa digunakan oleh pengguna AI dalam menambah pengetahuan atau menyelesaikan masalah.
Banyak opini mengkhawatirkan terjadinya candu AI ketika masyarakat menggantungkan semua sumber informasi dan bantuan pengetahuan ke AI. Sebagian besar akademisi menyebutkan bahwa candu AI tanpa dibatasi dengan kebijakan penggunaan AI membuat keilmuan tidak memiliki makna.
Pembatasan dan kebijakan penggunaan AI menjadi salah satu karateristik sifat fisis fisika tentang kalibrasi sebuah alat untuk menentukan nilai akurat pengukuran. Metafisika memberikan kerangka untuk memahami realitas, termasuk batas antara nilai-nilai kehidupan manusia dan AI.
Membatasi dapat memberikan tanda bahwa penggunaan AI dapat dikendalikan atau dikontrol sepenuhnya oleh manusia, sehingga tidak ada kekhawatiran terjadi ketergantungan penggunaan AI. Lahirnya AI menjadi bagian dari logika berpikir sains-digital yang didasari dengan kolaborasi fisika dan metafisika dalam menjelaskan realitas serta teori fisis pada ruang-waktu yang sama.
Penulis: Eko Wahyu Nur Sofianto Mahasiswa S3 Pendidikan IPA Universitas Sebelas Maret Surakarta (Dosen UIN Antasari Banjarmasin)